Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa dalam Sosiolinguistik


http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/
Pergeseran Makna Kata dalam Bahasa-Metodologi yang digunakan para pakar dalam meneliti pilihan bahasa, pergeseran dan pemertahanan bahasa di antaranya menggunakan kajian antropologi, linguistik antropologi, dan sosiologi. Para pakar menggunakan berbagai metode bergantung dengan disiplin akademiknya. Pakar antropologi dan linguistik antropologi menggunakan metode yang sama. Objek kajian pakar antropologi yaitu intesnif terhadap guyup secara individual dalam mencari sebab-sebab terjadinya pemertahanan dan pergeseran bahasa. 

Pendapat Ahli Mengenai Pergeseran Bahasa


Hal ini senada dengan pendapat Marzali (2007:7) yang menyatakan bahwa dalam kajian antropologi harus mempraktikkan bagaimana konsep teoritis diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sosiokultural yang pada akhirnya berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus berguna untuk mengembangkan teori dan konsep antropologi. Sedangkan pakar sosiologi lebih pada menguji data survei dari beberapa guyup. Data populasinya bersal dari sensus atau data kuesioner. Keuntungan dari data sensus dapat menunjukkan korelasi tinggi. Data ini merupakan pengakuan diri penutur dan dapat dicari dua cara pergeseran bahasa, yaitu (1) jika data populasi sama, biasanya data lebih dari satu dan menunjukkan kemerosotan. (2) Sedangkan jika data survei semacam tidak ada, survei serempak dapat dilakukan. Jika survei itu menunjukkan jumlah penutur usia tua lebih banyak, ini menunjukkan indikasi pergeseran.

                  Campur Kode, Alih Kode, dan Variasi

Faktor Pendorong Pergeseran Bahasa


Beberapa faktor pendorong pergeseran di antaranya ialah (1) kedwibahasaan masyarakat akibat dari alih generasi. Kedwibahasaan dapat terjadi karena keragaman bahasa yang ada pada kelompok itu. Masyarakat dwibahasa dapat juga disebut dengan masyarakat bilingual, yaitu jika seseorang atau sekelompok orang menggunakan 2 bahasa dalam percakapan atau penulisannya sehari hari (Liliweri, 2003:158). (2) Perkembangan ekonomi, (3) sokolah, (4) agama, (5) lingkungan atau tempat mukim, (6) perbaikan transportasi, yaitu jalan, angkutan, dan kendaraan, (6) komunikasi yang dapat dijangkau melalui radio, TV, telepon, dan koran. Melalui komunikasi tersebut kata kata dalam setiap bahasa akan berkembang sesuai dengan pengalaman berkomunikasi dengan orang atau media lain. Hal ini senada dengan pendapat Liliweri (2003:163) yang mengatakan bahwa pengalaman berbahasa dari TV atau radio mendorong orang untuk berbahasa yang baik dan benar. (7) Adanya budaya baru.

Contoh Kasus Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa


Berikut adalah kasus pemertahanan dan pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa pada (1) kasus oberwart terjadi akibat dari mayoritas penduduknya dwibahasawan, bahasa yang digunakan lebih banyak paralel, adanya perbedaan prestise dalam setiap kelompok, dan memandang kelompok lain sebagai orang luar. (2) Kasus Sutherland Timur yang melibatkan bahasa Inggris dan bahasa Galik. Pergeseran bahasa terjadi pada kasus ini juga akibat dari adanya perbedaan prestise. (3) Kasus yang terjadi di Montreal akibat meluasnya kdwibahasaan yang dapat diketahui melalui data sensus. Namun bahasa di Montreal ini berhasil dipertahankan. (4) Pemertahanan bahasa Tiwa diteliti oleh Ralph Fasold dengan menggunakan kuesioner menunjukkan bahwa bahasa tersebut melemah di kalangan muda. (5) Bahasa Loloan merupakan varietas bahasa Melayu. Dalam penelitiannya menggunakan ancangan sosiologi dan metode survei. Dalam penelitian menunjukkan bahasa Loloan berhasil dipertahankan karena adanya sikap toleransi dan wilayah mukim kelompok bahasa Loloan terpisah dari kelompok lainnya.

Daftar Rujukan

Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.


Marzali, Amir. 2007. Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: Kencana

Post a Comment for "Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa dalam Sosiolinguistik"