Kumpulan Cerpen : Keputusan dan Kepastian

http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.com/
Makin jelas ku dengar suara itu. Di saat aku mulai terjaga, ada semacam kekuatan yang mendorongku bangkit dari tempat tidur dan menerjang habis rasa kantukku. Ya, suara itu semacam suara tangis yangsemakin menggema di telingaku. Perlahan aku buka pintu kamar dan mengikuti asal suara tangis tersebut. Tidak salah lagi, suara itu datang dari dalam kamar Rosi.

Tanpa ragu ku buka pintu kamar Rosi yang biasanya memang tidak pernah dikunci. Mataku terbelalak disertai degup jantung yang sangat kencang melihat sahabatku, Rosi melakukan sesuatu yang mengerikan. Ia memegang gunting di tangan kanannya yang dalam hitungan detik siap ditancapkan di leher jenjangnya. Langsung saja aku menyambar tangan kanannya dan menjauhkannya dari leher putihnya itu. Dengan perlawanan yang sangat kuat ia kembali menarik gunting yang masih digenggamnya kuat-kuatuntuk kembali ditancapkan dilehernya. Terjadi pergulatan hebat antara aku dan dia yang sama-samaberusaha mendapatkan gunting tersebut. Hingga akhirnya gunting itu berhasil aku lepaskan dari cengkramannya.
“Masya Allah, apa yang kamu lakukan? Istighfar Rosi, istighfar...” teriakku. Seketika air mataku menetes melihat keadaan sahabatku yang amat berantakan. Tanpa pikir panjang gunting itu aku lempar ke atas lemari.
Ternyata malam ini hanya tinggal kami berdua di rumah kost yangsudah kami tinggali  selama tiga bulan ini. Kami memang mahasiswi baru sebuah universitas negeri di kota Surabaya. Panghuni kost lain sebagian ada yang pulang ke kampung halaman dan sebagian lagi melakukan rutinitas bermalammingguan ria. Biasanya hanya aku dan satu dua orang dari lima belas penghuni kostyang berada di kost saat malam minggu seperti ini.

                   Cerpen Jangan Jadi Seperti Aku           
          
Lebel satpam kost kini melekat pada diriku karena memang hampir setiap malam minggu aku selalu berada di kost. Tidak hanya malam minggu, malam-malam lainpun aku memang selalu berada di kost. Hal itu berbanding terbalik ketika aku masih tinggal bersama kedua orang tuaku di kota asalku. Hampir setiap malam minggu aku memiliki segudang agenda malamminguan. Aku selalu pergi bersama teman-temanku hanya untuk sekadar nongkrong, nonton bioskop, main ke rumah teman, atau bahkan teman-temanku datang ke rumah untuk bermalammingguan. Namun, tidak di kota ini, aku benar-benar membatasi diri dan pergaulanku karena aku menyadari, aku jauh dari pengawasan orang tua dan harus diriku sendiri yang membatasi diri untuk tidak terjerumus dalam hingar-bingar pergaulan kota besar seperti ini.
Yang aku herankan mengapa malam ini Rosi tidak pergi bermalammingguan dengan kekasihnya yang dari mingu-mingu awal masuk kuliah mereka sudah ‘jadian’.
“Kok bisa sih Ros, cepet banget kamu bisa jadian sama Dio.”
“Bisa dong, Rosi gitu loh.”
“Kenapa kamu bisa yakin dengan Dio, padahal baru tiga hari kenal dia.”
“Ya karena aku yakin sama dia, udah deh kamu gak akan pernah ngerti biar dijelasin dari pagi sampe malem sekalipun.”
“Ih, kalo aku sih ogah banget pacaran sama orang yang baru aku kenal. Kamu kan juga belum tau dia itu cowok yang baik atau enggak.”
“Nadia sayang, cinta itu memang nggak bisa detebak, nanti deh kalau kamu ngerasain sendiri apa itu yang namanya cinta bakalan ngerti sendiri, susah jelasinnya.”
“Yah, terserah kamu aja deh, tapi ingat loh ya...hati-hati, apa lagi sama cowok kota kayak si Dio itu!”
“Udah kamu tenang aja, percaya deh sama yang sudah berpengalaman, seperti aku ini. Hehehe...”
Sekilas aku teringat percakapan antara aku dan Rosi tiga bulan yang lalu.
*****

Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur. Hanya bisa membolak-balikkan badanku di tempat tidur. Saat aku membalikan badanku ke kanan aku melihat wajah teduh Rosi dalam tidurnya. Sangat jauh berbeda ketika ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan emosi yang meluap-luap tadi. isak tangisnya masih tersisa dalam tidur lelapnya. Seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Ia begitu terlihat suci ketika sedang terlelap. Masih terngiang dalam ingatanku apa yang dikatakan Rosi padaku setelah ia hampir saja mengakhiri hidupnya. Rasanya hati ini tersayat-sayat mendengar pernyataan sahabatku  tadi.
“Aku tidak bisa menolak ajakannya Nad, setan telah menguasai diriku. Seharusnya aku tidak menuruti kata-katanya. Aku menyesal Nad. Benar-benar menyesal.”
Aku hanya bisa terdiam saat Rosi mengatakan hal tersebut. Yang menjadi kekhawatiran besar dalam diriku adalah, bagaimana bila kedua orang tua Rosi tahu bahwa anak gadis yang dibangga-banggakannya sudah kehilangan mahkota berharga yang ia miliki? Sungguh tidak dapat aku bayangkan bila hal itu terjadi.
Mau marah pada Rosi juga tidak ada gunanya, toh semua ini sudah terjadi. Sebagai seorang sahabat aku merasa gagal menjaga sahabatku. Padahal dulu Rosi adalah gadis pendiam yang mustahil ia bisa melakukan hal semacam itu. Aku tidak menyangka Dio dengan mudahnya memutuskan hubungan dengan Rosi setelah ia berhasil merenggut mahkota berharga yang Rosi miliki. Tapi ini bukan sepenuhnya salah Dio. Biar bagaimanapun Rosi juga melakukan kesalahan dalam masalah ini dan mugkin ini merupakan akibat dari kesalahan yang telah ia perbuat.
Rosi menceritakan kronologi malam mencekam itu. Malam yang seharusnya tidak terjadi dalam hidupnya. Sesekali air matanya tumpah dan terisak-isak dengan eraman diujung ceritanya saat ia menceritakan kejadian yang ia rasa menyakitkan. Tak ada komentar, aku hanya berusaha menenangkan Rosi.
“Aku takut tidak ada lagi lelaki yang maudenganku Nad, biar bagaimanapun setiap laki-laki pasti menginginkan kesucian wanita yang akan dijadikan istri? Kalaupun aku bisa menyembunyikannya, bagaimana jika suatu saat nanti lelaki yang menjadi suamiku tahu bahwa aku sudah tidak suci lagi Nad?”
Deg, rasanya aku mendapatkan pukulan keras saat Rosi menannyakan hal itu padaku.
“Sudahlah Ros, yang sudah terjadi jangan disesali. Semua sudah terjadi dan waktu tidak dapat diputar kembali. Yang terpenting saat ini, kamu harus bangkit dan berjanji pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mohon ampun pada Allah. Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hati hamba-Nya. Kamu jangan khawatir, jodoh sudah tertulis bahkan sebelum kamu dilahirkan. Allah pasti menunjukan yang terbaik untukmu bila kamu benar-benar menyesal dan bertaubat.”
Aku mencoba menghibur sekaligus menasehati Rosi sebisaku sambil memeluk Rosi dan membelai rambutnya. Tak ada jawaban dari Rosi hanya isak tangis yang aku dengar dan tangisan penyesalan yang begitu mendalam.
*****
“Nadia, aku takut...”
Pernyataan Rosi menghentikan langkah kami yang sudah berada di depan sebuah apotek. Ya, sudah dua minggu Rosi tak kunjung datang bulan. Spontan aku menyarankannya untuk membeli test pack. Entah, mengapa aku meyarankan demikian. Bagiku hal itu memang hal terbaik yang harus dilakukan.
            Tidak hanya Rosi yang merasa takut. Aku pun juga merasakan demikian. Rosi mulai menampakkan kegelisahannya. Aku mencoba bersikap biasa. Aku tutupi rasa gelisahku dengan keyakinan melangkah maju masuk ke dalam apotek. Rosi menggenggam erat tanganku seperti seorang anak kecil yang berlindung dibelakang ibunya saat memasuki tempat yang ia rasa asing dan menakutkan.
“Cari apa mbak?” tanya seorang pramuniaga.           
“Emm, ada test pack mbak?” jawabku dengan santai.
Pramuniaga itu menunjukkan berbagai macam merk, jenis, dan harga test pack yang tersedia. Aku memilih sebuah test pack yang paling murah kerena menurutku semua test pack dibuat dengan tujuan dan fungsi yang sama.
*****
“Bismillah, bismillah, bismillah ya Allah...”Berdua kami menutup mata dan mengucapkan Basmalah. Berharap hanya muncul satu garis merah dalam test pack tersebut.
Kekonyolan terjadi ketika kami mencoba test pack tersebut. Karena kami sama-sama belum pernah memakainya, jadi kami tidak tahu cara menggunakannya. Kamarku di pilih untuk tempat pengujian karena kamarku letaknyapaling ujung dan dekat dengan kamar mandi agar seluruh penghuni kost tidak curiga dengan apa yang kami lakukan. Dengan membolak-balik berkali-kali kertas yang bertuliskan cara pemakaian kami langsung mengikuti instruksi yang tertulis pada kertas tersebut.
            Masih dengan mata terpejam. Sembari berpegangan tangan, dalam hitungan ke tiga kami bersiap membuka mata dan melihat hasil pengujian test packtersebut. Hanya ada satu garis merah yang muncul. Seakan tidak percaya, Rosi menggoyang-goyangkan benda tersebut dan memang hanya ada satu garis merah disana. Dengan senyum mengembang dan perasaan yang amat lega, sontak kami berpelukan dan mengucap syukur “Alhamdulillah...”
            “Rosi, hari ini menjadi pelajaran berharga bagi kamu. Allah telah memberimu kesempatan dan jangan pernah kamu mengulangi perbuatan itu lagi.” Nasehatku pada Rosi. “Iya Nad, kamu benar. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Alhamdulillah ya Allah... Alahamdulillah.” Tegas Rosi. “Bukan padaku kamuberjanji, seharusnya pada dirimu sendiri dan yang paling utama janji pada Allah...”
*****
Usai liburan semester ganjil Rosi memutuskan untuk pindah kost. Hal tersebut dilakukan karena ia ingin tinggal dekat dengan tempat kost Randy, pacar barunya yang ia kenal dari facebook. Kali ini aku benar-benar tidak bisa mencegah apa yang dilakukan Rosi. Segala nasehat dan bujukan yang aku lontarkan sudah tidak mempan lagi. Sia-sia, Rosi tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Rosi benar-benar telah berubah. Ternyata dicambuk pun dia tidak merasakan jera.
Hand phone berdering saat aku asyik menyaksikan acara televisi. Aku lihat ada pesan masuk. Segera aku melihat nama pengirim pesan tersebut dan ternyata pesan itu dikirim oleh Rosi. sudah dua bulan aku dan dia tidak pernah salimg menghubungi dan tak tahu kabar masing-masing. Kita sudah semakin jauh. Aku sedikit enggan membaca pesan tersebut. dengan helaan nafas pendek dan dalam aku mulai membaca pesan tersebut.
Nadia, maaf aku mau menanyakan sesuatu padamu. Kira-kira kamu tahu tidak hal apa yang harus dilakukan untuk menggugurkan kandungan??
Aku baca berulang-ulang pesan yang dikirimkan Rosi untukku. Benar-benar kaget dan tak percaya dengan apa yang aku baca. ‘Rosi, ada apa denganmu? Apa kamu melakukan perbuatan terkutuk itu lagi?’ pertanyaan itu melayang-layang dibenakku. Segera aku mebuyarkan lamunan dan dengan cekatan aku menelopon Rosi untuk mengetahui maksud dari pesan yang ia kirimkan. “Rosi apa maksud kamu?” tanyaku segara setelah ia mengangkat telepon dariku. Hanya isak tangis yang aku dengar. Tak ada jawaban, tak ada pertanyaan lagi yang muncul dari bibirku. Isak tangis disertai suara tangis panjang yang terus aku dengar hingga akhirnya Rosi memutus jaringan telepon dari seberang sana.
            Hanya terdiam.Televisi yang sedang menyala terasa hening bagiku. Sekilas percobaan bunuh diri, wajah takut dan gelisah Rosi, penyesalan serta janji yangdiucapkan Rosi melayang-layang di depanku. Bukan tayangan televisi yang aku lihat, namun bayangan-bayangan itu yang terlihat bagai adegan sebuah film yang diputar ulang.
Rosi, sebagai seorang sahabat aku telah berusaha menjagamu, menarikmu dari jeratan tali setan, namun apa daya bila dirimu sendirilah yang menjeratkan tali itu pada tubuhmu. Tidak ada yang bisa melepaskannya selain kekuasaan Allah dan tentunya dirimu sendiri. Semoga suatu saat Allah memberikan hidayah untukmu dan semoga apa yang terjadi pada dirimu kali ini menjadi cambuk yang benar-benar berhasil membuatmu jera. Dari kejadian demi kejadian yang Rosi alami, membuatku belajar bahwa memang hanya diri kita sendiri yang sanggup membentengi dan mengontrol segala perbuatan yang akan dilakukan dengan menimbang baik dan buruk dampak yang akan kita petik dikemudian hari.
Memang benar tidak ada penyesalan yang datang di awal. Penyesalan selalu datang di akhir. Sebelum kita menyesal, kita harus berfikir berkali-kali bila ingin melakukan sesuatu.Terima kasih Rosi kau telah memberikanku pelajaran hidup yang begitu berharga.


Post a Comment for "Kumpulan Cerpen : Keputusan dan Kepastian"