Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Masalah Pokok Retorika


http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

Metode Retorika Klasik

Perkembangan retorika  modern ternyata masih mempertahankan banyak hal dari model retorika klasik. Hal-hal yang sifatnya sangat fundamental dan krusial hingga kini masih dipertahankan keutuhan konsepnya. Metode retorika klasik baik yang dikemukakan oleh orang Yunani Kuno maupun retorika yang sudah dikembangkan oleh bangsa Romawi hingga saat ini masih diwarisi secara turun temurun. Karenanya, metode retorika klasik ini juga memperoleh sebutan sebagai metode retorika tradisional.


Dalam metode retorika klasik atau tradisional, seorang orator harus menyampaikan ide atau pesan dalam pidatonya secara jelas dan menarik. Topik yang dibicarakan haruslah koheren dengan kapasitas si pembicara, jika tidak maka pembahasan dalam retorika yang dilakukan akan dianggap kurang mendalam dan jelas. Selain itu, performansi seorang orator dalam retorika dituntut untuk selalu menarik, baik itu penampilan fisik, gaya bicara, penyampaian, hingga gestur tubuhnya. Namun, setiap orator dalam retorika pasti mengalami tiga masalah pokok retorika, yaitu (a) seni retorika, (b) masalah pidato, dan (c) situasi pemicu pidato.

Seni Retorika

Masalah pertama yang dialami adalah seni retorika. Seni retorika sendiri sebenarnya terbagi menjadi lima partisi utama yang meliputi tindakan-tindakan yang wajib dilakukan oleh orator. Pertama, Inventio atau Heuresis adalah penemuan atau persiapan terhadap materi-materi dalam pidato. Orator harus secara cerdik mengumpulkan dan menganalisa materi yang disukai oleh khalayak. Kedua, Disposito atau taxis yaitu pengorganisasian materi atau argumen dalam pidato. Ketiga, Elocutio atau Lexis, ialah performansi dan penggunaan bahasa yang sesuai yang meliputi komposisi langgam bahasa dan kejelasan. Keempat, Memoria atau Mneme, adalah latihan yang dilakukan guna menyiapkan suatu pidato. Kelima, Actio atau Hyprokrisis, adalah penyajian pidato.

Did You Know?

Antitesis, paralelisme, dan repetisi adalah majas yang sering digunakan oleh seorang orator.


Masalah Pidato

Masalah kedua yang dihadapi oleh seorang orator adalah masalah pidato. Masalah pidato terbagi menjadi lima subbagian. Pertama, Prom atau Exordium merupakan bagian awal sekaligus eksposisi dan introduksi yang disampaikan secara sopan, singkat, dan jelas. Kedua, Narratio atau Diagesis merupakan sebuah pernyataan mengenai topik pembicaraan. Ketiga, Agon atau Argumen merupakan bagian yang khusus menyajikan fakta konkret dan bukti untuk mendukung suatu masalah yang dibicarakan. Keempat, Refutatio atau Lysis merupakan partisi yang menolak bukti empiris lain yang berlawanan. Bagian ini difungsikan untuk mempertegas argumen yang telah dibangun pada bagian sebelumnya. Sebagian pakar retorika menggabungkan antara Agon dan Refutatio, dan sebagian pakar lainnya memisahkan kedua bagian tersebut karena memiliki fungsi yang berbeda dalam suatu pidato. Kelima, Peroratio atau Epilogos merupakan bagian terakhir dari masalah pidato yang berisi suatu kesimpulan dari apa yang telah dikemukan sebelumnya.

Situasi Pidato

Masalah ketiga dan terakhir yang dihadapi oleh seorang orator adalah situasi pemicu pidato. Yang dimaksud dengan situasi pemicu pidato adalah seluruh faktor luar atau eksternal yang dapat mempengaruhi performansi orator. Situasi pemicu pidato dapat berupa faktor fisik, yaitu teknis penyusunan materi pidato, maupun faktor psikologis, yaitu berupa gangguan, ancaman, dan dukungan yang diterima oleh seorang orator.

Post a Comment for "Masalah Pokok Retorika"

Berlangganan via Email