Apresiasi Puisi 'Penerimaan' Karya Chairil Anwar

http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/
Puisi Chairil Anwar tersebut mengangkat tema cinta kasih antara pria dengan wanita. Tema puisi dapat diidentifikasi melalui dua baris pertama yang berbunyi: Kalau kau mau kuterima kau kembali—Dengan sepenuh hati.

Puisi tersebut berisi tentang tokoh “aku” yang bersedia menerima mantan kekasihnya dengan sepenuh hati walau bagaimanapun keadaan si wanita. “Aku” sangat setia dalam menjaga cintanya untuk si wanita. “Aku” tidak mencari wanita lain setelah putus dengan pujaan hatinya itu, “aku” hanya menunggu sang pujaan kembali.  Dan tokoh “aku” pun tidak ingin wanita itu rendah diri atas keadaannya kala ia hendak kembali, wanita itu harus mau menemui dan berhadapan dengan tokoh “aku”. Namun dalam menerima kekasihnya kembali, sebagai seorang pria, “aku” tak ingin cintanya diambil orang lagi, “aku” juga tak ingin cinta kekasihnya terbagi dengan hati yang lain. Dengan orang yang paling dekat dengannya, dengan orang yang menjadi teladannya sekali pun, bahkan dengan gambarnya sendiri dia tak sudi untuk berbagi. 

Baca Juga        : (  Kumpulan Puisi Terbelakang ) (  Kumpulan Puisi Kontemporer )
                           (   Kumpulan Puisi Memunggungi Matahari  )

Nada yang digunakan dalam puisi tersebut berupa nada sunguh-sungguh (serius). Penyair melalui tokoh “aku” benar-benar bersedia menerima kekasihnya kembali dengan keadaan yang sudah tak perawan sekali pun karena ia sangat mencintai sang wanita. Selain itu, penyair juga bersungguh-sungguh tak ingin jika cinta kekasihnya itu terbagi dengan orang lain. Kesungguhannya itu tergambar jelas dalam dua baris terakhir puisi yang berbunyi “Untukku sendiri tapi—Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.”
Nada puisi erat kaitannya dengan perasaan puisi. Perasaan puisi akan muncul ketika puisi itu dideklamasikan. Selain itu, dapat pula dikenali melalui penggunaan ungkapan-ungkapan  yang digunakan dalam puisi karena dalam menciptakan puisi, suasana hati penyair juga ikut diekspresikan. Perasaan yang tersimpan dalam baris-baris Penerimaan Chairil Anwar itu ialah tegas. Penyair tidak ragu-ragu dalam menyikapi perasaan cintanya. Ia tegaskan bahwa ia bersedia menerima si wanita dan ia tegas pula menginginkan cinta wanita itu hanya untuknya. 
Selanjutnya pembaca dapat mengambil amanat dari puisi tersebut, yaitu sebagai seorang insan sebaiknya kita setia dalam menjalin hubungan cinta dengan lawan jenis yang sudah kita yakini untuk menjadi pendamping hidup (suami atau istri). Seperti halnya tokoh “aku” yang setia pada pujaan hatinya.
Sementara dalam hal diksi atau pilihan kata, puisi tersebut lebih banyak menggunakan kata-kata denotasi, namun ada pula kata-kata yang bermakkna konotasi. Makna denotasi puisi diantaranya terdapat pada baris Jika kau mau, kuterima kau kembali; Aku masih tetap sendiri; Kutahu kau bukan yang dulu lagi; Jangan tunduk!Tentang aku dengan berani; dan Untukku sendiri tapi. Sementara Makna konotasi puisi diantaranya terdapat pada kata sepenuh hati yang berarti sungguh-sungguh; kembang sari sudah terbagi yang berarti seorang wanita yang sudah pernah menjadi milik orang dan tidak perawan lagi; dan cermin yang berarti sesuatu yang menjadi teladan.
Unsur intrinsik puisi yang lain ialah imajinasi (citraan). Imajinasi (citraan) yang digunakan penyair dalam puisinya berupa Imajinasi Visual yang diantaranya digambarkan dalam baris Jangan tunduk!(seolah kita dapat melihat orang yang sedang tertunduk, kemudian dilarang menunduk oleh penyair); dan Sedang dengan cermin aku enggan berbagi (cermin dapat diindera dengan mata). Selain itu ada pula rima. Rima merupakan satu unsur penting pula untuk memperindah bunyi yang dihasilkan puisi. Pada puisi Penerimaan ini dilihat dari bunyinya termasuk rima sempurna karena seluruh suku akhir sama bunnyinya.

Post a Comment for "Apresiasi Puisi 'Penerimaan' Karya Chairil Anwar"