Apresiasi Pementasan Drama Koran



 Resensi Drama Koran
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

Para pembaca setia Artikel Kami, pada kesempatan kali ini akan dipublikasikan sebuah postingan yang membahas tentang apresiasi drama berjudul koran.

Awal adegan dimulai dengan seorang wanita penjaga warung yang dipijat oleh kakek tua dan perbuatan mereka tertangkap oleh kamera seorang wartawan. Pencahayaan terlalu lama dalam adegan ini, sehingga membuat pemain terpaksa mematung untuk beberapa saat. Saat lampu padam, adegan dilanjutkan oleh adegan obrolan antara penjaga warung dan kakek tersebut. Pemeran kakek tidak dapat berbicara dengan nada dan pola selayaknya seorang kakek. Selain itu, kostum yang digunakan kakek itu kurang cocok dengan pakaian orang-orang paruh baya.


                 Apresiasi Pementasan Drama Monumen

            Pada adegan seorang yang melaporkan kepada penjaga warung bahwa penjaga warung telah masuk koran, pemeran pelapor berita kurang dapat menunjukkan ekspresi orang panik dan kaget. Pemeran cenderung berbicara dengan nada orang yang santai dan tidak menunjukkan kepanikannya. Sementara itu, situasi lahan parkir dipertegas dengan penambahan aksesoris sepeda, marka jalan dsb.  Anak dari penjaga warung itu adalah seorang yang idiot. Pemeran anak idiot dapat membawakan dengan baik perannya dengan dilengkapi properti yang ia pakai. Tingkah laku dari pemeran tersebut sangat mirip dengan anak keterbelakangan pada umumnya dan mampu membawakan mimik seorang yang keterbelakangan. 

            Munculnya penjual jamu diiringi dengan musik yang merepresentasikan pekerjaannya itu.  Properti tukang jamu juga melengkapi penampilannya sebagai seorang tukang jamu. Adegan pembicaraan dalam pementasan drama  ini banyak menggunakan bahasa jawa. Dari logat tersebut dapat dibayangkan bahwa latar drama ini terjadi di tanah jawa. Latar cerita drama ini berfokus pada warung si Sanah penjaga warung. 

            Konflik yang ditampilkan dalam drama ini seharusnya ditandai dengan pencahayaan warna merah atau berkedip. Pada adegan kepergoknya si penjaga warung yang tengah berselingkuh dengan seorang kakek, si suami dari penjaga warung itu marah dan mengambil kayu di belakang panggung untuk memukul  si kakek. Kayu yang digunakan untuk memukul kakek sebaiknya ditempatkan dalam jangkauan yang dekat dari si suami agar si suami ini tidak perlu repot-repot mengambil properti di belakang panggung. Dengan demikian, kenaturalan dalam mendramakan peran dalam lakon berjudul Koran ini dapat terus terjaga. Pertimbangan lainnya adalah bahwa dalam membawakan suatu lakon drama dalam skala nasional maupun internasional tentu drama tersebut harus mempunyai kerapatan yang sangat bagus. Yang dimaksud dengan kerapatan adalah alur dan arus dialog antarpemain harus terus terjadi dengan sistematis dan lancar. Dalam kasus ini, jika ada satu properti saja yang luput untuk dibawa sehingga seorang pemain drama harus mengambil properti tersebut ke belakang panggung, maka akan terjadi suatu jeda yang harus diisi oleh pemain lain. Dengan kata lain, kesiapan drama tidak hanya dinilai dengan kesiapan dalam membawakan sebuah peran tetapi juga harus disiapkan faktor pendukung lainnya berupa sarana dan pra sarana.

Post a Comment for "Apresiasi Pementasan Drama Koran"