Kumpulan Cerpen Terbaru : Penyesalan Hari Ini

Penyesalan Hari Ini

http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

Ayahku sebenarnya adalah orang yang baik dengan segala kurang lebihnya. Ia tergolong orang yang  tak perlu menjinjit jika ingin memperbaiki bohlam yang rusak karena ia berpostur lebih 12 cm dari standar minimum orang yang ingin masuk akademi kepolisian. Dan apabila ia harus berjemur di teriknya panas matahari selama 7 hari tanpa henti, ia tak perlu takut kulitnya menghitam legam. Bukan karena ia adalah seorang adam sehingga tak terlalu concern dengan penampilannya, tetapi karena  pada lapisan kulitnya, di aliran darahnya, di dalam sel darahnya,  di suatu tempat yang para ilmuwan sering sebut dengan istilah DNA, ayahku memang tak punya bakat untuk jadi orang keling.
 Di balik semua kelebihannya itu, ternyata ia memiliki sebuah keanehan yang anehnya hanya berlaku untukku. Ia tak pernah tersenyum, memuji, menyanjung atau bahkan mengapresiasi semua hasil kerja kerasku di sekolah. Senyum manis nan mempesona dan kata-kata pujian yang menggetarkan  itu selalu saja diberikan kepada adik perempuanku. Bahkan ketika nilai rapor adikku turun setajam nilai tukar rupiah pada masa reformasi, ayah tetap tersenyum semanis madu dan berkata “ tak usah terlalu dipikirkan, sekolah itu bukan masalah nilai, tetapi ilmu yang kamu dapat.”
Tiba waktu untuk pengambilan rapor hari ini, aku tentu senang bukan kepalang karena aku yakin mampu jadi jawara kelas . Aku yakin kali ini pasti ayah akan melontarkan pujiannya kepadaku dan membagi sedikit senyum yang lama kunanti itu. Tapi, apa yang terjadi sungguh di luar perkiraanku sebelumnya. Hingga nama terakhir dipanggil ke depan untuk memanggil rapornya, tak satupun perwakilan dari keluargaku yang hadir dan mengambil raporku. Aku berjalan lesu menuju guru wali kelasku dan mengambil sendiri raporku.
Entah dengan apalagi harus kubuktikan kepada ayah. Aku kalut, terbalut oleh luapan amarah yang tak mungkin lagi dapat ditangguhkan.  Aku sebenarnya bukan pribadi yang mudah bocor tabung kesabarannya. Tapi, untuk kesekian kali aku tak mau diperlakukan seperti ini oleh ayah. Boleh saja orang menganggap aku ini anak durhaka atau apa, tapi  mulai sekarang ayah adalah musuhku. Maka sejak ibu tiada 10 tahun lalu, aku hanya tinggal dengan ayah dan adikku di rumah yang jauh dari kesan indah, kalaulah tak sudi disebut memprihatinkan. Aku sayang kepadanya, dia sayang kepada adikku, adikku sayang  kepadaku, aku sayang kepada adikku, adikku sayang kepadanya dan mungkin dia tak pernah menyayangiku, sama sekali. Jika boleh meminjam istilah matematisnya, kami ibarat sebuah segitiga dengan satu sisi yang diabaikan, itulah aku. Seperi itulah hidupku, sampai suatu saat kuketahui sebuah rahasia yang membuat anggapan itu tak ubahnya sebuah cap sampah pada berlian.
***
Ayah tak pernah melantangkan suara meski itu untuk memarahiku yang diskors dari sekolah karena berkelahi dengan teman sekolahku sendiri. Ia selalu mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya yang misterius itu. Seperti sebutan bagi samudera pasifik yang membahan itu, tenang tapi misterius. 
Pernah suatu kali aku sengaja ingin mengorek isi hati dari ayahku yang pendiam itu. Telah kurencakan berbagai macam teori cara bertanya yang efektif agar  orang yang diajak bicara dapat berterus terang. Langsung saja kuhampiri ayah saat ia tengah bersantai  di teras rumah sambil membaca koran.
“Ayah.”
Ayah hanya menoleh dengan pandangan datar dan melanjutkan kembali bacaan korannya.
“Ayah, aku boleh tanya sesuatu?”
“Hmmm..... Tanya apa kamu ,Dik?”
“Ke..Kenapa ayah begitu pendiam?”
“Ya karena orang lain sudah cukup cerewet, makanya tidak perlu jadi seperti mereka.”
“Oh, begitu ya?”
“Bukan merupakan kewajiban untuk memberiahu apa yang orang lain ingin tahu.”
“Harus begitu ya?, Yah”
“Ya.”
Aku sempat kehabisan kata-kata karena ayah sama sekali tidak terancing dengan pertanyaan-pertanyaanku barusan. Sungguh sulit sekali untuk menaklukkan hati pria berhati suku eskimo itu. Perasaan dan hati pria itu bagai hutan belantara Amazon yang sama sekali belum tersentuh oleh siapapun. Saat aku dalam langkah kembali ke dalam rumah. Aku teringat sesuatu yang mungkin dapat membuat ayahku berbicara lebih banyak dari biasanya. Sunggu tak ia-sia aku membeli buku motivasi di pasar loak kemarin. Kali ini aku yakin bisa membuat ayaah berbicara. Maka dengan langkah yang penuh percaya diri aku melangkah ke kembali ke teras dimana ayah masih saja sedang khusyuk membaca koran.
“Ayah.”
“Ada apa lagi Dik?”
“Ini yah, aku mau tanya sesuatu lagi.”
“Iya, tanya apa kamu ini?”
“Ayah, ibu itu orangnya seperti apa sewaktu seusiaku ini ?”
Tiba-tiba seperti sebuah kaca yang dihantam oleh peluru, ayah tampak terkejut dengan pertanyaanku barusan. Ia melipat rapi koran yang tengah dibaca dan meletakkan koran itu di meja sebelahnya. Ia mungkin tak akan menyangka aku akan bertanya demikian. Walaupun ayah berusaha untuk tetap tenang, tampak sekali ia terlihat gusar akan sesuatu dan menyiapkan mentalnya sendiri untuk menjawab pertanyaan anaknya yang banyak tanya ini.
“Ayo ayah, ibu itu seperti apa dulu?”
Bersamaan dengan pertanyaan itu meluncur dari mulutku, Ayah menjadi seperti tegang dan tampak tidak nyaman dengan situasi ini. Ia mulai menatapku dan bersiap untuk menjawab.
“Ibumu itu ya, dia seperti perempuan sewajarnya saat seusiamu.”
“Ah, apa benar seperti itu? Tak adakah sesuatu yang lain untuk diucapkan?”
“Tidak ada, Nak.”
“Aku tidak percaya ayah, kalau ibu itu orang yang biasa-biasa saja. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari ibu sehingga membuat orang pendiam seperti ayah menjadi tertarik. Pasti ada sesuatu.”
“Baiklah Nak, tampaknya kau ingin tahu sesuatu tentang ibumu. Ayah akan ceritakan sesuatu. Ibumu dulu adalah tipe-tipe orang yang mudah sekali membuat jatuh cinta orang lain. Dia disukai oleh banyak sekali orang. Tak terhitung lagi berapa banyak orang yang menggilai ibumu.”
“Lantas apa ayah termasuk orang yang  menyukai ibu?”
“Tidak, Nak. Pertama kali ayah kenal ibumu, ayah justru membenci ibumu.”
“Kenapa ayah membenci ibu?”
“Ayah juga tidak mengerti, Nak.”
“Padahal ibu kan tidak salah apa-apa.”
“Mungkin karena ibumu terlalu baik, Nak. Ia terlalu sempurna untuk kehidupan yang banyak kekurangan.”
Aku berusaha mencerna dengan keras perkataan ayahku berusan. Namun, tetap tak dapat kutemukan arti dari perkataannya. Mungkin bagi remaja seusiaku ini terlalu berat untuk memaknai perkataan pria dewasa yang sudah banyak makan asam garam dalam hidupnya.
“Maksudnya apa itu, Ayah?”
“Sudahlah. Kau bantu saja adikmu sekarang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Kasihan kalau dia sampai tidak bisa mengerjakan.”
“Baik, Ayah.”
Aku kembali ke dalam dan hendak menuju kamar adikku. Tapi, pikiranku tetap mengawang-ngawang kesana kemari.
“Apa maksud dari perkataan ayah tadi ya?”
***
Rasanya aku ingin mengumpat dan menghardik siapapun yang ada di dekatku sekarang. Gelora amarah ala remaja ini sungguh tak terkendali. Aku kecewa dengan siapa saja, dengan apa saja dan semuanya. Maka aku kali ini ingin jalan kaki saja pulang ke rumah, tidak naik bis seperti biasanya.
Konyol sekali memang perbuatanku. Tapi untuk sedikit mengurangi rasa kesalku, aku berjalan sejauh 10 km. Tak terasa lelah bagi orang yang sedang memuncak amarahnya. Hingga ketika aku hampir sampai di rumah. Banyak kerumunan orang di sekitarku. Aneh sekali tidak seperti biasanya. Segera aku percepat langkahku menuju rumah. Terlihat ibu tetangga sebelah menghampiriku.
“Nak, kamu yang sabar ya.”
“A...ada apa bu emangnya?”
“Ayahmu Nak.”
“Ayah, apa yang terjadi pada ayah?”
“Ayahmu meniinggal karena kecelakaan, Nak.”
Seperti sebuah petir yang menghantam kepalaku, pecah, terbakar, hangus semuanya. Aku tidak dapat mengucap apa pun. Kakiku tiba-tiba lemas dan keluar air dari mataku. Buku rapor yang kupegang pun jatuh. 
“ Ayahmu meninggal saat hendak menuju sekolahmu Nak. Ia berpamitan sebelum berangkat kalau ayahmu hendak mengambil rapor anak kebanggaannya. Ia juga ingin memberimu hadiah.”
Perkataan orang itu barusan semakin menohok perasaanku. Ia mengeluarkan sebuah pigura kecil dari tasnya.
“ Ayahmu ingin memberikanmu ini, Nak.”
Sejenak aku memandang foto itu.
“Siapa perempuan dalam foto ini, bu?”
“Itu ibumu saat muda dulu, Nak.”
Aku memeluk erat foto itu dan keluarlah dengan deras air mata yang sejak tadi kutahan-tahan.
“Maafkan, aku ayah.”
Baca juga : Cerpen Terbaru Jangan Jadi Seperti Aku
                   Cerpen Terbaru Di Pelupuk Mata

2 comments for "Kumpulan Cerpen Terbaru : Penyesalan Hari Ini"

  1. Cerita yang menarik, di tunggu cerita 2 berikutnya

    ReplyDelete
  2. cerita yang bagus menurut saya...di tunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Berlangganan via Email