Hubungan Bahasa dan Jenis Kelamin

http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

Ragam Bahasa dan Jenis Kelamin

Sosiolinguistik merupakana salah satu cabang ilmu linguistik yang berfokus pada penggunaan bahasa pada masyarakat secara luas. Pada kesempatan sebelumnya, Artikel Kami sudah membahas tentang hakikat sosiolinguistik serta hubungan bahasa dan etnik. Kali ini, fokus dari artikel kali ini adalah tentang hubungan bahasa dan jenis kelamin.

Ragam bahasa selain dipengaruhi oleh kelas sosial dan kelompok etnik, ternyata juga dipengaruhi jenis kelamin. Hal ini senada dengan pendapat Mulyana (2007:314) yang menyatakan bahwa wanita dan pria mempunyai kosakata berlainan. Wanita cenderung hiperkorek, oleh karena itu wanita jarang digunakan peneliti untuk dijadikan sebagai informan. Wanita dianggap mengaburkan situasi sebenarnya, sehingga wanita disebut sebagai warga negara kelas dua. Hal itulah yang melatarbelakangi munculnya gerakan emansipasi wanita. Mereka ingin kedudukannya sederajat dengan kaum pria sehingga mereka menggunakan bahasa baku untuk meningkatkan dirinya. Komunikasi wanita dtiandai dengan kesederajatan, yakni untuk mencapai kesamaan pengalaman (Mulyana, 2007:316). Bahasa baku dipilih karena dianggap berkualitas, berstatus, dan kompeten. Berbeda dengan kaum pria yang memang menggunakan ragam baku, taat asas (bahasa), dan menggunakan bahasa asli. Pada dasarnya perbedaan wanita dengan pria tidak langsung menyangkut bahasa dan struktur, tetapi pada gestur, ekspresi wajah, suara dan intonasi, serta fonem.
     Ragam bahasa wanita dan pria dapat dilihat dari beberapa aspek berikut. (1) Adanya prestise tersembunyi yang merupakan bagian dari sikap pria selain cenderung merendah (bahasa) dan tidak peduli terhadap tutur. (2) Adanya teori tabu yang menyangkut roh ghaib, tata krama, dan pergaulan sosial yang menyebabakan bahasa pria dan wanita berbeda. (3) Adanya teori sistem kekerabatan yang mengakibatkan perbedaan kosakata akibat kekerabatan dan jenis kelamin. (4) Adanya kecenderungan pria menggunakan bahasa inovatif akibat pengaruh tingkat pendidikan dan wanita konservatif di lingkungan regional. Sedangka di lingkungan nasional wanita cenderung inovatif, sehingga wanita disebut sebagia pelopor perubahan. Adanya kontroversi terhadap sikap bahasa tersebut wanita bersifat androgini. (5) Sikap sosial dan kejantanan, maksudnya ialah wanita cenderung mendekati bentuk baku sehingga logat prestisenya tinggi. Sedangkan pria yang merupakan kelas pekerja dan ada hubungannya dengan kejantanan, menggunakan ragam non baku. (6) Adanya kasus Hindia Barat, menyebabkan wanita dan pria mempunyai kosa kata khusus. Hal ini akibat dari percampuran bahasa Karibia dan Arawak.
     Bahasa waria dan gay ternyata juga dapat menjadi ragam bahasa tersendiri. Hal ini senada dengan pendapat Emka (2005:197) yang menyatakan bahwa dikalangan waria dan gay ternyata juga terdapat bahasa sendiri meski tidak menjadikannya sebagai bahasa wajib, minimal menjadi ciri tersendiri. Pada umumnya bahasa waria dan gay dibedakan menjadi 2, yaitu (B) penciptaan istilah baru dan (A) berdasarkan kaidah perubahan bunyi. Unsur (A) dibedakan atas (A1) berdasarkan bahasa Jawa dan (A2) berdasarkan kata bahasa Indonesia. Unsur (A2) masih dibedakan lagi menjadi (A2a) kata berakhiran –ong dan (A2b) kata berakhiran –s. Akhiran –ong yang disisipkan diakhir kata menjadi semacam kamus umum, contoh laki-laki menjadi lekong dan perawan menjadi prewong (Emka, 2005:198). Kaum waria cenderung menggunakan unsur (A1) dan gay cenderung menggunakan unsur (A1) dan (A2).

Daftar Pustaka

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: ROSDA

Emka, Muammar. 2005. Karnaval malam: Jakarta Undercover Bagian 2. Jakarta: Gagas Media.

No comments for "Hubungan Bahasa dan Jenis Kelamin"

Berlangganan via Email