Kumpulan Cerpen Terbaru : Jangan Jadi Seperti Aku

Jangan Jadi Seperti Aku

http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/


 Tanpa ragu sedikitpun pak Anton mengambil keputusan tersebut, ia sudah terlanjur muntab dengan perilaku tak senonoh putri sulungnya itu. Betapa sebuah pergaulan yang terlalu bebas dapat menjerumuskan anak lugu yang pernah ditimangnya semasa balita. Anak yang selalu ia ceritai dengan dongeng-dongeng pengantar sebelum tidur itu tampak menjadi sosok yang susah ia kenali sekarang. Rusaklah hubungan yang terbina sejak belasan tahun antara seorang ayah dan anak perempuaannya. Orang tua separuh baya itu pun sampai kepayahan mengatur nafasnya yang sudah naik turun sedari tadi.

“ Bersabarlah dahulu Pak, tak perlu kau buat keputusan yang tergesa-gesa seperti ini. Setiap orang juga pasti punya salah dalam hidup.”
“ Bu, kalau memang setiap manusia itu ditakdirkan  hidup  dengan mempunyai kesalahan masing-masing, kesalahan yang anak kita perbuat sudah terlampau kelewat batas.”
Air mata itu pun keluar melalui selah-selah keriput wajah pak Anton. Ia sudah tahu bahwa keputusan yang sudah ia buat akan mempunyai konsekuensi. Di satu sisi, Santi adalah salah satu anak yang paling ia sayangi, di sisi lain ia juga sadar bahwa Santi harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Pak Anton sejenak duduk pada sofa antik pemberian almarhum ayahnya dahulu. Ia memegangi kepalanya sendiri kemudian menatap langit-langit rumahnya. Demikian yang ia lakukan selama satu jam terakhir ini. Bobot kepalanya terasa bertambah 10 kali lipat saja dan lehernya yang sudah termakan usia itu jelas susah untuk terus menahan kepala tetap tegak, apalagi untuk berpikir jernih. Bu Aminah yang juga seorang keturunan priyayi tampak coba menenangkan pasangan hidupnya sejak 28 tahun lalu itu. Bu Aminah berjalan menuju dapur rumahnya, memasak air lalu ia menyeduh teh hangat kesukaan suaminya itu. Ia menyuguhkan teh kepada suaminya dengan cara yang hanya seorang priyayi yang matang saja yang mampu melakukan.

“ Bagaimana pak? Apa pantas kita sebagai orang tua dengan begitu saja mengusir anak kita itu keluar rumah?”

“ Bu, yang ada dipikiranku sekarang ini adalah bagaimana Santi mendapat jalan keluar yang terbaik. Jika ia tetap di sini dan kandungannya bertamabah besar, maka ia hanya akan memperoleh tambahan beban dalam hidupnya. Ia akan mejadi bahan gunjingan dan bulan-bulanan warga sini yang memang gemar menggunjing.”
“Jika itu memang alasan bapak mengusir anak kita, maka saya sebagai seorng ibu mampu menerimanya, pak. Tetapi, kasihan si Santi itu kalau serta merta kita usir keluar rumah tanpa bekal apapun.”
“ Iya bu, ini bukan mutlak kesalahan Santi saja yang menyebabkan musibah ini terjadi. Kita sebagai orang tua juga ikut salah karena kita kurang mengawasi anak kita sewaktu ia kuliah di Malang. Seandainya kita dapat lebih menjaga anak kita dari pergaulan bebas, ia tentu tidak akan mengalami aib semacam ini.”
Bu Aminah menunduk kepalanya, tanda ia memahami betul apa yang diucapkan suaminya itu. Sepasang suami istri itu lalu berdiri bergegas mengambil air wudhu karena azan Maghrib sudah terdengar dari surau RT sebelah.
“ Kita pasrahkan saja ini semua kepada Gusti Allah. Gusti Allah Maha Adil dan Penolong.”
“ Aamiin. Iya Pak.”
****

Di sebuah persimpangan jalan, terlihat perempuan muda yang sedang kepayahan mententeng tas koper yang lebih besar dari tubunya itu. Ia tampak lelah walaupun tetap mencoba untuk kuat menyeret senti demi senti tas kopernya itu. Santi sudah 5 bulan pergi dari rumahnya yang nyaman dan serba ada. Kini ia harus bertahan hidup dengan kondisi apa adanya di dunia luar yang keras dan kejam. Kandungannya semakin besar saja dan pasti sebentar lagi ia akan melahirkan anak yang tanpa ayah itu. Di sebuah pohon Bougenville, ia mengambil rehat sejenak dari panasnya teriakan matahari siang itu. Angin juga berhembus cukup kencang dan menyibak rambut lurusnya yang cukup lama tidak ia rawat lagi di salon. Ia merenung sejenak memikirkan nasibnya esok hari yang tinggal di jalanan yang tak kenal ampun ini. Pernah ia dijambret oleh sekawanan orang ketika baru diusir dari rumahnya dulu. Ia kehilangan perhiasan yang rencananya akan ia jual untuk menyambung hidupnya di jalanan.
“ Ya Allah, adilkah hidup yang seperti ini?”
Ia mulai berbicara sendiri karena memang tak ada seorang temanpun yang bersedia menolong dia semenjak kejadiaan itu. Pelampiasaan curahan hatinya adalah dengan berbicara dengan diri sendiri. Hanya bayangannya sendiri dan jabang bayi yang semakin membesar ini, teman curhatnya selama ia hidup di dunia luar. Ia pun tak memperdulikan ejekan-ejakan dari anak-anak kecil yang mengatakan ia telah menjadi gila karena  ia berbicara sendiri. Ia pun tak acuh lagi dengan penampilannya yang kini menyerupai para Gepeng yang kerap diburu oleh Satpol PP.
“ Bagaimana ya kabar kakak, ibu, dan bapak di rumah? Aku rindu kalian.”
Sekali waktu senyum merenggang dari bibir yang lusuh itu dan menampakkan sisa-sisa manis wajah mantan mahasiswi primadona. Ia teringat pengalaman lucu dan bahagia dengan keluarganya. Lamunan yang demikian ini merupakan semacam oase penyejuk bagi hidup Santi yang serba dianaungi derita berkepanjangan tanpa ujung itu. Namun, ketika ia mebayangkan momen saat ia diusir dari rumah, maka dapat dipastikan ia akan menghabiskan sisa hari dengan meratapi aibnya tersebut.
Tiba-tiba sebuah rasa sakit menjalar dari lutut hingga ke perutnya. Santi tiba-tibah roboh. Ia kesulitan untuk mengambil nafas. Ia berteriak meminta tolong, tapi tidak ada seorang pun yang mendengar. Santi mencoba meraih pagar pembatas taman dan memeganya erat. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia mencoba menyanggah tubuhnya yang semakin tidak berdaya. Air ketuban pecah dari rahimnya dan itu semakin membuat Santi semakin  susah mengambil nafas. Ia sadar bahwa hidupnya tinggal hitungan detik saja, tapi ia berusaha agar bayinya dapat selamat. Ia berusaha sampai keringat mengalir deras dari seluruh tubuhnya dan ia mencoba menekan perutnya agar bayinya dapat keluar. Akhirnya, terdengar suara tangisan bayi yang keluar dari rahim Santi. Mata Santi berkunang-kunang, nafasnya sudah sampai leher, tapi ia sempat mengucapkan sebuah kata.
“ Jangan jadi seperti aku, Nak!”

Mata Santi terpejam dan nafasnya yang tersengal itu berlahan melambat lalu berhenti hingga tubuhnya menjadi dingin. Ia berhenti bernafas saat bayi yang ia kandung baru mulai mengambil nafas

2 comments for "Kumpulan Cerpen Terbaru : Jangan Jadi Seperti Aku"

  1. cerpennya bagus gan
    bisa buat pembelajaran buat anak-anak sekarang yang terjerumus ke pergaulan bebas

    ReplyDelete
  2. menyentuh sekali cerpennya,, nice.. setiap kehidupann baru adalah harpan baru #mogangerti hehehe :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Berlangganan via Email