Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kritik Sastra Feminis - Pengertian, Sejarah, dan Pelopor Sastra Feminis

pengertian kritik sastra feminis
Beberapa hari lalu, bangsa Indonesia memperingati hari kartini. Seperti kita tahu bahwa hari tersebut secara simbolis sebagai suatu wujud kemerdekaan kaum perempuan dengan seutuhnya. Tapi tahukah sobat semua bahwa peristiwa sejenis tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia.

Banyak tokoh feminis dunia internasional yang menyuarakan hal yang sama. Kali ini, kita akan membahas secara spesifik bagaimana lika liku perjuangan tokoh feminis dunia dalam bidang sastra. Untuk lebih tahu selengkapnya simak pembahasan berikut.


Awal Mula Munculnya Sastra Feminis

Ada beberapa pendapat tentang munculnya sastra feminis di Amerika Serikat. Pendapat pertama berkaitan dengan aspek politis. Waktu rakyat Amerika memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1776, deklarasi kemerdekaan Amerika antara lain mencantumkan bahwa “semua laki-laki diciptakan sama, tanpa menyebut-nyebut perempuan.

Maka dalam konvensi di Seneca Falls pada tahun 1848, yang dianggap sebagai awal timbulnya gerakan perempuan secara terorganisasi dan yang dianggap pula sebagai “pemberontakan besar kaum perempuan”. Para tokoh feminis memproklamasikan versi lain dari deklarasi kemerdekaan Amerika yang berbunyi “semua laki-laki dan perempuan diciptakan sama”.

Menurut para feminis Amerika, kaum wanita merupakan suatu kelas dalam masyarakat yang ditindas oleh kelas lain, yaitu kelas laki-laki (Djajanegara, 2000:3). Disamping itu para ibu rumah tangga Amerika, yang jelas tertindas atau kelas proletar yang di eksploitasi oleh golongan borjuis, tidak diberi kesempatan untuk memiliki sarana produksi, sehingga mereka mengalami aliansi dari alat-alat produksi, sehubungan dengan itu, sejumlah aktivis feminis ingin meniru usaha-usaha lenin yang memberikan berbagai kemudahan kepada wanita.

Beberapa aspek di atas, dapat disimpulkan bahwa perjuangan para feminis amerika pada umumnya tidak bertujuan untuk mengungguli atau mendominasi kaum  laki-laki. Meskipun wanita diidentifikasikan dengan kelas proletar atau kelas yang tertindas, dan kaum pria disamakan dengan kelas borjuis atau kelas penindas, gerakan wanita pada umumnya tidak bermaksud membalas dendam dengan menindas atau menguasai laki-laki.

Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Dalam konvensi di seneca Falls, para feminis menggalang dukungan bagi tuntutan mereka agar wanita diberi hak yang sama.

Pengertian Kritik Sastra Feminis

Secara garis besar Culler (1983) dalam Suharto (2010:5) menyebutnya sebagai reading as a women, membaca sebagai perempuan. Yoder (1987) dalam Suharto (2010:5) menyebutkan bahwa kritik sastra feminis itu bukan berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan. Penjelasan mengenai kritik sastra kerap kali disamakan dengan apresiasi sastra. Padahal, kedua hal tersebut berbeda.

Arti sederhana kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang.

Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahir sebagai respons atas berkembang luasnya feminisme di berbagai penjuru dunia. Apakah feminisme itu? Secara leksikal, moeliono, dkk (1993:241) menyatakan bahwa feminisme adalah gerakan kaum perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Persamaan hak itu meliputi semua aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Kemunculan gerakan feminis diawali dengan gerakan emansipasi perempuan, yaitu proses pelepasan diri kaum perempuan dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah serta pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju Moeliono, dkk,(1993:225-226), dalam Suharto, (2010:61-62).

Orang yang menganut faham feminisme di sebut feminis. Pada masa Siti Nurbaya istilah emansipasi perempuan, feminis, dan feminisme belum ada, tetapi esensinya sudah berkembang dalam masyarakat.

Istilah feminisme tidak dapat dipararelkan begitu saja dengan istilah feminin sebab laki-laki yang feminis pun ada dan dia tidak harus berprilaku kefeminiman. Akan tetapi, banyaknya feminis laki-laki juga dapat menimbulkan masalah.

Ketika ada laki-laki yang menjadi seorang feminis dan memperjuangkan hak-hak perempuan, hal ini justru menjadi tanda bahwa perempuan memang masih merupakan mahluk yang perlu di tolong orang lain untuk mengentaskannya.

Selain itu, perlu dicatat pula bahwa feminis bukan merupakan upaya pemberontakan terhadap laki-laki, upaya melawan pranata sosial seperti institusi rumah tangga dan perkawinan, maupun upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya Fakih (1997:78-79) dalam Suharto (2010:63). Salah satu teori yang dapat menjelaskan sebab-sebab munculnya hierarki gender adalah teori struktural.

Tepro struktural dibangun dari asumsi bahwa subordinasi perempuan adalah kultural dan universal. Satu kelompok menyatakan bahwa perempuan mempunyai status lebih rendah sekaligus otoritas lebih sedikit karena perannya hanya berhubungan dengan arena domestik, sedangakan peran laki-laki lebih terlihat dalam arena publik.

Kelompok struktural yang lain beragumentasi bahwa subordinasi perempuan itu kultural, tetapi berawal dari pembagian kerja berdasarkan gender. Pembagian kerja ini bersumber pada asosiasi simbolik yang universal antara perempuan dengan alam (nature) dan laki-laki dengan budaya (culture) Susilastuti (1993:33-34) dalam suharto (2010:64)

Pelopor Kritik Sastra Feminis

Sejak berkobarnya faham feminis di barat, faham itu berkobar pula dalam kritik sastra. Suharto (2010:11) menyebutkan beberapa tokoh pelopor Kritik Sastra feminis ialah Simone de Beauvoir, Kathe Millet, Betty Friedan, dan Germain Greer adalah para penulis yang menaruh perkembangan pada kritik ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang mereka a-jukan erat kaitanya dengan faham feminis sehingga seakan-akan ada sangkut pautnya de-ngan sastra dan budaya. Semua pertanyaan itu seakan-akan hanyalah suatu uji coba yang dapat didekati dengan analisis berdasarkan bentuk budaya.

Ada titik kesamaan pandang-an para pelopor itu tentang perempuan, bagai-manakah gambaran budaya penindasan dan peremehan perempuan dalam masyarakat yang patriarkhat? Mereka ingin membuktikan jawaban pertanyaannya dengan pengujian pada karya sastra. Pandangan itu diajukan dengan tidak terpancang pada kritik sastra tradisional.
Baca Juga : Peran Sastra Anak
Mereka beranggapan bahwa setiap teks (sastra) tercermin begitu banyak bagian dari momen kebudayaan. Isu yang selama ini mengatakan bahwa peran perempuan hanya sebagai makhluk pelengkap laki-laki, tertindas, inferior, takluk, dan sebagainya harus dapat dipahami melalui kritik sastra tertentu.

Dalam perkembangannya para pelopor ini mengetengahkan bentuk kritik sastra feminis yang merupakan campuran antara budaya dan sastra. Mereka menggambarkan kondisi perempuan seperti yang dilukiskan para lelaki dengan ytang digambarkan para perempuan sendiri. Mereka memusatkan analisis dan perhatian pada perempuan-perempuan seperti yang terlukis dalam budaya laki-laki.

Para pelopor ini melihat bahwa sesungguhnya peran dan status perempuan itu ditentukan oleh jenis kelamin.itulah sebabnya Millet (1970) mengetengahkan sexual politics sebagai pegangan dalam pemahaman analisis seksual. Ia mempertimbangkan teks-teks dalam hubungannya dengan seksualitas penulisnya.

Simon de Beauvoir, seorang seorang pelopor faham feminis sesudah perang, yang menerbitkan bukunya pada tahun 1949 tentang the second sex, menaruh perhatian pada studi tentang penindasan perempuan dan konstruksi feminitas oleh para laki-laki; bagaimana perempuan dapat dilihat oleh mata laki-laki. Pandanganya bermula dari fakta dan gambaran mitos psikologi, sejarah, dan biologi.

Mitos-mitos buatan manusia ini menempatkan perempuan sebagai objek pasif, perempuan diciptakan berbeda dari laki-laki. Bagi Beauvoir, perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan mempunyai arti hanya dari persetujuan masyarakat sehingga karakteristik biologis dapat dijelaskan, tetapi penjelasannya tidak pernah tepat.

Yang perlu dicatat dari pandangannya adalah Beauvoir menganggap secara implisit, bahwa kaum perempuan tidak pernah dapat dengan tepat oleh para penulis laki-laki, gambaran perempuan ditentukan sebagaimana mitos yang mereka ciptakan.

Betty Friedan, juga seorang pelopor faham feminis, dalam bentuk The Feminine Mystique mengetengahkan fersi pragmatis dari bentuk kepasifan perempuan. Menurutnya, perempuan merupakan kaum yang pasif atas bentuk kebudayaan yang tetap sebagaimana anggapan feminitas oleh kaum patriakhat.

Friedan menggunakan faham kritik dalam menganalisis kebudayaan. Hal itu antara lain tercermin pada contoh berikut. Friedan menggambarkan media konsumerisme perempuan, misalnya majalah perempuan.

Juga dalam konferensi NOW tahun 1966 dicari kekuatan-kekuatan yang mendeskriminasikan perempuan, antara lain dapat disebut pada lapangan pendidikan, penggunaan tenaga kerja, agama, perempuan miskin dan malang, gambaran perempuan dalam media massa, hak-hak politik perempuan, dan keluarga.

Daftar uang disampaikan friedan ini pantas diperhatikan dalam rangka melihat alternatif kedudukan perempuan pada sistem patriarkat. Ia tidak mengharapkan perempuan untuk meninggalkannya, tetapi mengubah agar tercapai alternatif posisi yang dimungkinkan.

Germaine Greer melanjutkan gagasan para pelopor sebelumnya pada tahun 1971 dalam The Female Eunuch. Ada kesamaan antara Greer dan Friedan. Keduanya menolak untuk membedakan gambaran, tetapi menyatukannya saja dalam pendekatan yang tidak berkelas.

Greer memperkirakan bahwa ada bentrokan dalam faham feminis, ramalan emansipasi perempuan akan selalu menjadi teoritis, mudah dibaca, dan pragmatis.

Berbeda dengan Beauvoir, Kathe Millet membuat kritik yang berfokus pada ideologi. Menurutnya, kritik sastra feminis dipusatkan pada sexual politics. Ia menganggap bahwa kesusatraan merupakan dokumen dari kesadaran kolektif kaum patriarkhat.

Dikatakannya, ada tiga perubahan dalam politik seksual; pertama, para penulis laki-laki membangun karakter laki-laki dan perempuan, kedua, para penulis tidak penulis tidak menggambarkan seksualitas dengan gabungan penyimpangan feminitas, dan ketiga struktur fiksi merupakan lukisan dari budaya laki-laki.

Alasan militer berpangkal pada anggapan bahwa kekuatan laki-laki berada di atas perempuan sehingga menjadi bagian fundamental dari masyarakat yeng berkelas. Dengan perbedaan seksual, dapat ditafsirkan bagaimana sastra memuat dan menciptakan ideologi perbedaan jenis kelamin.

Faham ini dapat dipakai untuk melihat sifat kewanitaan dan kejantanan dalam karya-karya penulis laki-laki (atau juga perempuan?). Ia menggambarkan bahwa jenis kelamin dalam struktur teks seolah-olah adalah jenis kelamin pula seperti yang terjadi dalam masyarakat; tetapi harus diingan bahwa sering kali terjadi kesalahan membaca yang hebat.

Para pelopor ini telah mengawali pandangannya untuk mengubah nilai sastra dan bentuk nilai perempuan yang sudah pernah ditangkap dengan membuka faham feminis bagi kritik sastra feminis dalam persepsi yang baru.

Daftar Rujukan
Djajanegara, Soenarjati.2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar.Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Suharto, Sugihastuti.2010. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Post a Comment for "Kritik Sastra Feminis - Pengertian, Sejarah, dan Pelopor Sastra Feminis"

Berlangganan via Email