Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ekonomi Makro Indonesia

Terima kasih telah setia mengikuti perkembangan Artikel Kami. Pada postingan kali ini, penulis akan menampilkan suatu karya ilmiah bidang ekonomi dengan judul Makalah Ekonomi Makro Indonesia. Berikut adalah pembahasan selengkapnya.

MAKALAH EKONOMI MAKRO INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi II ini merupakan penerus dari analisis tentang kekuatan-kekuatan yang mengarahkan ekonomi jangka-panjang. Dengan versi dasar dari model pertumbuhan Sollow sebagai titik awal.

Pada pertumbuhan ekonomi II , membuat model Sollow lebih umum dan realistis. Pada pertumbuhan ekonomi I, model Sollow menunjukkan bagaimana perubahan modal (tabungan dan investasi) dan perubahan angkatan kerja (pertumbuhan populasi) mempengaruhi output. Dan dalam pertumbuhan ekonomi II ini akan menambahkan sumber lainnya yakni perubahan teknologi.

Pada pertumbuhan ekonomi II ini juga mengkaji bagaimana kebijakan publik suatu Negara bisa mempengaruhi tingkat dan pertumbuhan standar kehidupanya. Berpindah dari teori empiris yaitu mempertimbangkan apakah model Sollow sesuai fakta.

Selama tahun 1990-an, sebuah literature besar memeriksa prediksi model Sollow dan model pertumbuhan ekonomi lainnya, ternyata ada beberapa yang sesuai dan ada yang tidak. Model Sollow dapat mencakup banyak pengalaman dalam pertumbuhan internasional, tetapi masih agak jauh dari pertumbuhan itu sendiri.

Dan pada pertumbuhan II ini, mempertimbangkan hasil dari model Sollow. Model ini dapat membantu kita untuk memahami dunia ini dengan membuatnya menjadi sederhana. Oleh karenanya, setelah menyelesaikan analisis tentang suatu model adalah penting untuk mempertimbangkan apakah kita telah membuatnya menjadi terlalu sederhana.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana model Sollow dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi?
1.2.2 Apa saja kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk dapat mendiskripsikan model Sollow yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
1.3.2 Untuk menyebutkan kebijakan pemerintah untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Model Sollow Dapat Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi 

Model Sollow mengasumsikan hubungan yang tidak berubah antara input modal dan tenaga kerja serta output barang dan jasa. Tetapi model Sollow ini dapat dimodifikasi untuk mencakup kemajuan teknologi yang merupakan variable eksogen, yang meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berproduksi sepanjang waktu.

2.1.1 Efisiensi Tenaga Kerja

Untuk memasukkan kemajuan teknologi, maka harus kembali ke fungdi produksi yang mengkaitkan modal total K dan tenaga kerja total L dengan output total Y. jadi fungsi produksi itu dapat ditulis:

Y = F(K,L)
Kini dapat ditulis fungsi produksi sebagai
Y = F(K,L x E)

E disini adalah variable baru (dan abstrak) yang disebut efisiensi tenaga kerja. Efisiensi tenaga kerja mencerminkan pengetahuan masyarakat tentang metode-metode produksi, ketika teknologi mengalami kemajuan, efisiensi tenaga kerja meningkat.

Asumsi yang paling sederhana tentang kemajuan teknologi adalah bahwa kemajuan teknologi menyebabkan efisiensi tenaga kerja E tumbuh pada tingkat konstan g. Bentuk kemajuan teknologi disebut pengoptimalan tenaga kerja, dan g disebut tingkat kemajuan teknologi yang mengoptimalkan tenaga kerja (labor-augmenting technological progress). Karena angkatan kerja L tumbuh pada tingkat n, dan efisiensi dari setiap unit tenaga kerja E tumbuh pada tingkat g, maka jumlah pekerja efektif LxE tumbuh pada tingkat n+g .

2.1.2 Kondisi Mapan dengan Kemajuan teknologi

Mengekspresikan kemajuan teknologi sebagai pengoptimalan tenaga kerja membuatnya analog dengan pertumbuhan populasi. Pada pertumbuhan ekonomi II menganalisis perekonomian dalam kaidah jumlah per pekerja efektif dan membiarkan jumlah pekerja efektif meningkat.

Untuk melakukan hal tersebut, maka perlu mempertimbangkan kembali notasi. yaitu
k = KI (L x E) menunjukkan modal per pekerja efektif, dan y = YI (L x E) menunjukkan output per pekerja efektif. Dengan demikian dapat ditulis y = f(k). Notasi tersebut sebenarnya tidak baru. Efisiensi tenaga kerja E konstan pada nilai arbitrer 1, sebagaimana dilakukan secara emplisit, maka definisi k dan y akan mengganti definisi lama. Namun, ketika efisiensi tenaga kerja meningkat maka harus diingat bahwa k dan y sekarang mengacu pada jumlah per pekerja efektif (bukan per pekerja aktual).

Analisis tentang perekonomian membuahkan hasil ketika mengkaji pertumbuhan populasi. Persamaan yang menunjukkan evolusi k sepanjang waktu berubah menjadi:
∆k = sf (k) – (∂ + n + g )k.

Persediaan modal ∆k sama dengan investasi sf (k) dikurangi investasi pulang-pokok (∂ + n + g)k. Namun demikian, karena k = KI EL, maka investasi pulang-pokok menjadi tiga kaidah untuk menjaga k tetap konstan, yaitu:
∂k dibutuhkan untuk mengganti modal yang terdepresiasi
Nk dibutuhkan untuk memberi modal bagi para pekerja baru
gk dibutuhkan untuk memberi modal bagi para pekerja efektif baru yang diciptakan oleh kemajuan teknologi.

2.1.3 Dampak Kemajuan Teknologi

Dengan adanya kemajuan teknologi , model Sollow akhirnya menjelaskan kenaikan yang berkelanjutan dalam standar kehidupan yang diamati, yaitu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi bisa mengarah ke pertumbuhan yang berkelanjutan dalam output per pekerja. Sebaliknya, tingkat tabungan yang tinggi mengarah ke tingkat pertumbuhan yang tinggi hanya jika kondisi mapan dicapai.

Sekali perekonomian berada pada kondisi mapan, tingkat pertumbuhan output per pekerja hanya bergantung pada tingkat kemajuan teknologi. Mengacu pada model Sollow, hanya kemajuan teknologi yang bisa menjelaskan peningkatan standar kehidupan yang berkelanjutan. Dengan mengikuti pola tersebut, maka tingkat pertumbuhan Ekonomi Makro Indonesia dapat diketahui secara cermat.

Kemajuan teknologi juga memodifikasi kriteria untuk Kaidan Emas. Tingkat modal Kaidah Emas didefinisikan sebagai kondisi mapan yang memaksimalkan konsumsi per pekerja efektif. Dengan mengikuti argument yang sama, dapat menunjukkan bahwa konsumsi per pekerja efektif pada kondisi mapan adalah :
c* = f(k*) – (∂ + n + g)k*
Konsumsi pada kondisi mapan dimaksimalkan jika
MPK = ∂ + n + g
Atau
MPK - ∂ = n + g

Yaitu , pada tingkat modal Kaidah Emas, produk marginal modal neto, MPK - ∂ , sama dengan tingkat pertumbuhan output total, n + g . Karena perekonomian aktual mengalami pertumbuhan populasi dan kemajuan teknologi, maka harus menggunakan kriteria ini untuk mengevaluasi apakah hal itu memiliki modal yang lebih besar atau lebih kecil dari kondisi mapan Kaidah Emas.

2.2 Kebijakan Untuk Mendorong Pertumbuhan

Setelah menggunakan model Sollow untuk menyingkap hubungan di antara sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang berbeda, maka nisa digunakan teori tersebut untuk membantu menuntun pemikiran tentang kebijakan ekonomi. Kebijakan ekonomi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yaitu:

2.2.1 Mengevaluasi Tingkat Tabungan

Mengacu pada model Sollow, seberapa banyak Negara menabung dan berinvestasi adalah determinan penting dari standar kehidupan penduduknya. Tingkat tabungan menentukan tingkat modal dan output pada kondisi mapan (stady state). Satu tingkat tabungan tertentu menghasilkan kondisi mapan Kaidah Emas, yang akan memaksimalkan konsumsi per pekerja sekaligus kesejahteraan ekonomi. Kaidah Emas memberikan tolok ukur yang bisa dibandingkan dengan perekonomian AS.

Untuk memutuskan apakah perekonomian AS berada pada diatas, atau di bawah Kaidah Emas, maka perlu membandingkan produk marjinal modal setelah depresiasi (MPK - ∂) dengan tingkat pertumbuhan output total (n + g). Pada Kaidah Emas, MPK - ∂ = n + g.

Jika perekonomian beroperasi dengan modal lebih kecil dari Kaidah Emas, maka produk marjinal yang kian menurun menyatakan bahwa MPK - ∂ > n + g. Dalam hal ini, kenaikan tingkat bunga secara bertahap akan mengarah ke kondisi mapan dengan konsumsi yang lebih tinggi. Di sisi lain, jika perekonomiana beroperasi dengan terlalu banyak modal, maka MPK - ∂ < n + g, dan tingkat tabungan harus dikurangi.

Fakta membuktikan bahwa persediaan modal dalam perekonomian AS berada di bawah Kaidah Emas. Dengan kata lian, jika Amerika Serikat menabung dan menginvestasikan bagian yang lebih besar dari pendapatannya, maka perekonomian akan tumbuh jauh lebih cepat dan akhirnya mencapai kondisi mapan dengan konsumsi yang lebih tinggi. Penemuan ini menyatakan bahwa para pembuat kebijakan sebenarnya ingin menaikkan tingkat tabungan dan investasi. Dalam kenyataannya, selama bertahun-tahun, peningkatan formasi modal menjadi prioritas tinggi dari kebijakan ekonomi.

2.2.2 Mengubah Tingkat Tabungan

Cara yang paling tepat yang bisa dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi tabungan nasional adalah melalui tabungan masyarakat, perbedaan antara jumlah penerimaan pajak pemerintah dan pengeluarannya. Apabila pengeluaran pemerintah melebihi penerimaannya, maka pemerintah dikatakan mengalami defisit anggaran, yang menunjukkan tabungan masyarakat negatif.

Defisit anggaran meningkatkan tingkat bunga dan menyusutkan atau meng-crowding out investasi. Penurunan persediaan modal yang diakibatkannya adalah bagian dari beban utang nasional pada generasi mendatang. Sebaliknya, jika pengeluaran pemerintah lebih kecil penerimaannya, dikatakan telah terjadi surplus anggaran. Pemerintah bisa membayar sebagian utang nasional dan mendorong investasi.

Pemerintah juga mempengaruhi tabungan nasional dengan mempengaruhi tabungan swasta, tabungan yang dilakukan oleh rumah tangga dan perusahaan. Sebaliknya, berapa banyak orang yang menabung tergantung pada intensif yang mereka terima, dan intensif ini dibedakan oleh berbagai kebijakan publik.

Banyak ekonom berpendapat bahwa tariff pajak atas modal yang tinggi termasuk pajak pendapatan perusahaan , pajak pendapatan federal, dan berbagai jenis pajak pendapatan Negara bagian yang menghambat tabungan swasta dengan mengurangi tingkat pengembalian yang diterima oleh para penabung.

2.2.3 Mengalokasikan Investasi Perekonomian

Model Sollow menyederhanakan asumsi bahwa hanya ada satu jenis modal. Di dunia, tentu saja ada banyak jenis modal. Perusahaan-perusahaan swasta melakukan investasi dalam jenis-jenis modal tradisional, seperti pabrik buldoser dan baja, serta jenis-jenis modal baru, seperti computer dan robot. Pemerintah melakukan investasi dalam berbagai bentuk modal masyarakat, yang disebut infrasturktur, seperti jalan, jembatan, dan sistem pembuangan air.

Meskipun model dasar Solow hanya mencakup modal fisik dan tidak berusaha menjelaskan efisiensi tenaga kerja, dalam banyak hal modal manusia analog dengan modal fisik. Seperti modal fisik, modal manusia meningkatkan kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa. Menaikkan tingkat modal manusia membutuhkan investasi dalam bentuk para pengajar, perpustakaan, dan waktu belajar.

Para pembuat kebijakan yang berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi harus menghadapi isu tentang jenis-jenis modal apa yang paling dibutuhkan perekonomian. Para pembuat kebijakan bisa mengandalkan pasar untuk mengalokasikan tabungan ke jenis-jenis investasi alternatif. Industry-industri dengan produk marjinal modal tertinggi secara alami akan bersedia meminjam pada tingkat bunga pasar untuk mendanai investasi baru. Sebagian besar ekonom bersikap skeptic terhadap kebijakan industri, karena dua alasan.

Pertama, mengukur eksternalitas dari sektor-sektor yang berbeda begitu sulit seperti menggantang asap. Jika kebijakan didasarkan pada pengukuran buruk, maka pengaruhnya akan mendekati acak dan dengan demikian, lebih buruk ketimbang tidak ada kebijakan sama sekali. Kedua, proses politis adalah jauh dari sempurna. Sekali pemerintah terlibat dalam bisnis yang memfasilitasi industri-industri tertentu dengan subsidi dan pengahapusan pajak, hal itu cenderung didasarkan pada kepentingan politis sebagai besaran eksternalitas.

Salah satu jenis modal yang perlu melibatkan pemerintah adalah modal masyarakat. Pemerintah daerah, Negara bagian, dan federal selalu memutuskan apakah akan meminjam untuk mendanai jalan raya, jembatan, dan sistem transit baru.

2.2.4 Mendorong Kemajuan Teknologi

Model Solow menunjukkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan dalam pendapatan per pekerja harus berasal dari kemajuan teknologi. Namun, model Solow menganggap kemajuan teknologi sebagai variable eksogen, model Solow tidak dijelaskannya. Sayangnya, determinan kemajuan teknologi tidak dipahami dengan baik.

Di samping pemahaman yang terbatas ini, banyak kebijakan public dirancang untuk mendorong keamjuan teknologi. Sebagian besar dari kebijakan ini mendorong sektor swasta untuk menyalurkan sumber daya ke inovasi teknologi. Misalnya, sistem paten memberikan monopoli sementara kepada investor produk-produk baur, prinsip perpajakan menawarkan penghapusan pajak untuk perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan serta kantor-kantor pemerintah.

National Scicnce Foundation secara langsung mensubsidi penelitian dasar di universitas. Selain itu, sebagaimana telah dibahas, kebijakan industri juga menyarankan bahwa pemerintah seharusnya mengambil peran yang lebih aktif dalam mempromosikan industry-industri tertentu yang merupakan kunci bagi kemajuan teknologi yang pesat.
Lihat Juga : Pengertian Kurs dan Sistem Nilai Tukar

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan

Model Solow mengasumsikan hubungan yang tidak berubah antara input modal dan tenaga kerja output barang dan jasa. Tetapi model Sollow ini dapat dimodifikasi untuk mencakup kemajuan teknologi yang merupakan variable eksogen, yang meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berproduksi sepanjang waktu. Model Solow mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yakni:

a. Efisiensi tenaga kerja
b. Kondisi mapan dengan kemauan teknologi
c. Dampak kemajuan teknologi

Model Sollow untuk menyingkap hubungan di antara sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang berbeda, maka nisa digunakan teori tersebut untuk membantu menuntun pemikiran tentang kebijakan ekonomi. Kebijakan ekonomi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yaitu:
a. Mengevaluasi tingkat tabungan
b. Mengubah tingat tabungan
c. Mengalokasikan investasi perekonomian
d. Mendorong kemajuan teknologi


DAFTAR RUJUKAN


Mankiw,G.2003.Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga


Bagi sobat Artikel Kami yang merasa makalah tersebut masih ada kesalahan atau kekurangan silakan berkomentar di kolom yang telah disediakan. Terus pantau artikel-artikel terbaru dari Artikel Kami untuk mendapatkan referensi pendidikan yang terbaru. Terima kasih dan sampai jumpa!

Post a Comment for "Ekonomi Makro Indonesia"

Berlangganan via Email