Koran : Pengertian, Jenis dan Kesalahan Bahasa dalam Koran

Secara istilah koran berasal dari bahasa Belanda Krant dan bahasa Perancis courant yang berarti “saat ini”. Koran atau surat kabar adalah sebuah bacaan yang dicetak pada kertas yang tipis dan lebar.

Koran merupakan salah satu media massa cetak yang sangat tersohor di kalangan masyarakat, mulai dari masyarakat lapisan rendah hingga ke tingkat pejabat-pejabat tinggi.

Meski di zaman modern ini sudah banyak media saingan koran seperti media elektronik (televisi dan radio) serta internet, tetapi koran tetap memiliki pembacanya sendiri. Untuk itulah pada kesempatan kali ini, Artikel Kami akan membahas mengenai pengertian, jenis, dan kesalahan bahasa dalam koran.

Pengertian Koran
surat kabar di indonesia

Secara umum koran adalah jenis media massa yang memberitakan kejadian sehari-hari dalam kehidupan masyarakat. Sebagian lagi menyebut koran dengan nama surat kabar.

Koran biasanya ditujukan sebagai kegiatan komersil dari penerbit koran yang bersangkutan. Tulisan-tulisan yang terdapat dalam sebuah koran dihasilkan oleh para penulis berita yang disebut sebagai wartawan. Wartawan tersebut bertugas untuk menulis kejadian-kejadian menarik yang terjadi di tengah masyarakat.

Koran biasanya terbit setiap hari, namun ada juga yang terbit secara mingguan atau bulanan. Koran ber-manfaat bagi masyarakat untuk mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di daerahnya atau daerah lain atau negara lain.

 Tanpa koran, masyarakat tidak akan mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di luar jangkauan pergaulannya.

Jadi, koran adalah sarana bagi masyarakat untuk meluaskan pandangannya tanpa harus hadir secara langsung untuk menggali informasi dari kejadian yang bersangkutan.

Jenis-Jenis Koran

Para ahli membagi jenis media massa koran menjadi tiga yang diuraikan sebagai berikut.

1.    Koran Harian

Ini adalah jenis media cetak yang terbit setiap hari, kecuali pada hari-hari tertentu, seperti pada libur nasional. Jenis media cetak ini masih dibagi lagi menjadi Koran Harian Nasional, Koran Harian Daerah, dan Koran Harian Lokal.

Berita yang disampaikan adalah jenis berita news atau informasi terkini dan masih hangat diperbincangkan orang. Sementara cara penyampaiannya menggunakan sistem staright news atau berita yang apa adanya.

2.    Koran Mingguan

Koran yang terbit setiap seminggu sekali biasanya mengangkat berita tentang hiburan, sport atau olahraga, dan juga in depth news atau liputan mendalam tentang suatu peristiwa atau informasi tertentu. Gaya kepenulisan di koran mingguan biasanya cenderung bergaya feature atau deskriptif.

3.    Koran Khusus

Contoh koran khusus ialah koran yang dibuat khusus untuk komunitas muslim di Inggris. Jenis koran khusus ini biasanya terbit lebih lama dari koran yang biasanya, bisa satu kali dalam sebulan atau mungkin dua kali dalam seminggu.

Kesalahan Bahasa yang Umum Ada dalam Koran

Pada media massa koran seringkali ditemukan kesalahan penerapan kaidah bahasa Indonesia, baik ejaan, istilah asing, pemilihan kata, pembentukan kata, kalimat, maupun ditemukannya berbagai istilah gaul yang seharusnya tidak layak diterapkan di media massa yang menjadi konsumsi masyarakat luas.

Kesalahan Umum Ejaan bahasa Indonesia

Para ahli mengklasifikasikan contoh kesalahan ejaan dalam Bahasa Indonesia menjadi.

(a)Kesalahan penulisan kata depan di, ke, dan dari. Kata depan memiliki fungsi untuk menyatakan arah atau menunjukkan tempat.

Menurut kaidah yang tertera di dalam Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kata depan harus dituliskan secara terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya, kata “di studio” harus dipisah.

Kata depan di penulisannya dipisah dari studio. Pada kata “ke atas”, kata depan ke harus ditulis secara terpisah dari kata atas. Begitu pula kata “dari samping” penulisan kata depan dari dipisahkan dengan kata samping.

Ketika membaca koran, kita masih sering menemukan penulisan kata depan yang digandeng dengan kata selanjutnya, seperti ditempat, kerumah, darisana, dan lain-lain.

Kesalahan penulisan kata depan ini sebisa mungkin harus dihindari mengingat hal tersebut bertentangan dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

(b) Kesalahan lain yang sering terjadi ialah masalah penulisan gabungan kata. Menurut kaidah tata bahasa baku bahasa Indonesia, bagian-bagian gabungan kata harus dituliskan secara terpisah.

Misalnya: tanda tangan, tanggung jawab, kerja sama, lipat ganda. Apabila gabungan-gabungan kata itu mendapatkan awalan, kaidahnya menyatakan bahwa awalan itu harus dituliskan serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya.

Contoh kata tanggung jawab mendapat imbuhan awalan ber- maka penulisannya menjadi bertanggung jawab. Selanjutnya apabila gabungan kata itu memperoleh akhiran, kaidahnya menyatakan bahwa akhiran itu harus dituliskan serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

 Misalnya kata lipat ganda mendapat akhiran –kan maka penulisannya menjadi lipat gandakan.

(c) Selain bentuk gabungan kata seperti yang telah dijelaskan pada poin 1 dan 2, dalam bahasa Indonesia juga terdapat gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata atau sudah dianggap benar-benar berpadu.

Gabungan kata yang sudah dianggap satu ini harus dituliskan secara serangkai. Misalnya: apabila, barangkali, daripada, bagaimana, dan lain-lain.

Kesalahan Umum Penggunaan Tanda Baca

Kesalahan penggunaan tanda baca masih sering sekali dijumpai dalam penulisan berita atau artikel di koran. Tanda baca yang biasanya salah digunakan ialah tanda baca titik, koma, serta tanda hubung. Kesalahan penggunaan tanda baca ini bisa berakibat fatal terhadap perubahan makna seperti contoh yang tertera dalam tabel berikut.

 No Contoh Makna
 1 Istri gubernur,baru meninggal. Yang meninggal ialah istri gubernur
 2 Istri, gubernur baru, meninggal Yang meninggal dua orang, istri dan gubernur baru

Kesalahan Umum Penulisan Unsur Serapan

Penulisan unsur serapan diatur oleh kaidah yang tercantum di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. 

Menurut Ahli, unsur serapan adalah unsur bahasa lain yang masuk ke dalam bahasa Indonesia, baik yang berasal dari bahasa daerah yang ada di Indonesia sendiri maupun yang berasal dari bahasa asing.

Baca Juga : Ragam Bahasa Stilistika

Penyerapan kata atau istilah asing dapat dialukan dengan dua jalan, yaitu (1) menyerap sepenuhnya kata atau istilah asing dalam bentuk yang utuh sehingga baik lafal maupun ejaannya seperti bahasa asli dan (2) menyerap kata atau istilah asing dengan mengadakan penyesuaian lafal atau ejaannya.

Kesalahan penulisan unsur serapan yang paling sering ditemukan di media massa koran ialah unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing tidak ditulis miring. Seharusnya semua kata yang bukan berasal dari bahasa Indonesia haruslah dicetak miring.

Misalnya penulisan kata asing “check up” haruslah ditulis miring check up. Begitu pula kata yang berasal dari bahasa daerah seperti “rek”, “konco”, “do-lan” haruslah ditulis miring rek, konco, dolan.

Kesalahan Umum Pemilihan Kata yang Baku dan Tidak Baku

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui penggunaan kata-kata yang tidak baku digunakan di media massa koran.

Contoh: (1) Keputusan rapat itu tidak bisa dirubah lagi.

             (2) Tidak ada yang bisa merubah keputusan rapat itu.

Kata-kata dirubah dan merubah pada kalimat di atas bukan kata baku bahasa Indonesia. Kedua kata tersebut berasal dari kata ubah, apabila ubah mendapat imbuhan {di-} dan {me-} menjadi diubah bukan dirubah, mengubah bukan merubah.

Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baku. Parahnya lagi, penulisnya pun terkadang tidak sadar bahwa kata-kata yang digunakan dalam berita atau artikel yang dimuat itu bukanlah kata baku dalam bahasa Indonesia.

Kesalahan Umum Pemilihan Ragam Bahasa Formal dan Nonformal

Koran lokal maupun koran nasional acapkali masih sering menggunakan ragam bahasa nonformal. Meskipun koran tersebut berstandar lokal yang artinya pembacanya hanya melingkupi suatu wilayah tertentu, tetapi rasanya tidak etis bila ragam bahasa dalam berita atau laporan yang disampaikan menggunakan bahasa nonformal.

Untuk itulah diperlukan pembinaan agar dapat disortir yang mana ragam bahasa formal dan ragam bahasa nonformal yang boleh disajikan dalam suatu naskah berita atau informasi. Semoga informasi mengenai pengertian, jenis dan kesalahan bahasa dalam koran ini dapat bermanfaat buat sobat semuanya. Terima kasih.


No comments for "Koran : Pengertian, Jenis dan Kesalahan Bahasa dalam Koran"

Berlangganan via Email