Cerpen Remaja : Curahan Sang Penguasa Hati

https://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.com

Cerpen oleh Novi Eka Putri

Cinta bukanlah namanya cinta, jika datangnya tidak disangka. Bergerak perlahan seperti angin, namun dapat menerjang layaknya sang ombak. Seperti bunga mawar yang dipenuhi dengan keindahan duri tajam disekelilingnya, seakan – akan dapat membahayakan siapa saja yang ingin mendekatinya. Imajinasi yang tak kalah hebat dari sekedar mencintai dan dicintai adalah seperti sebuah raga tanpa jiwa yang di dalamnya dipenuhi dengan rasa kesakitan yang teramat sangat. Aku adalah seorang gadis yang membanggakan diri akan sebuah rasa. Mengakui telah menyimpan terlalu banyak perasaan cinta yang begitu dalam. Hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa kenyataannya dirimu tidak pernah terjamah olehku.

Runtutan mimpi semalam yang telah usai saat semua kesadaran yang kembali terkumpul semenjak sang surya  menampakkan dirinya. Kau yang telah berjalan jauh dan bodohnya tangan ku tidak sanggup untuk menggapaimu, walaupun dengan beribu debaran jantung yang terus menggema di tempat persembunyiannya. Aku mungkin tidak bisa memberikanmu dunia. Tapi aku memiliki mata yang akan selalu terjaga saat dirimu berada di kegelapan. Aku memiliki telinga untuk mendengar seluruh cerita dan keluh kesahmu saat kau terjebak dalam keterpurukan. Aku memiliki kedua tangan yang mampu menuntunmu seandainya kau tersesat di tengah jalan dan kehilangan arah untuk kakimu melangkah. Serta aku yang memiliki dua kaki yang akan dengan siap dan sigap berlari sekencang mungkin seandainya diberi pilihan untuk mengejarmu lagi.

Ada sebuah kasih yang terlalu rumit untuk di jelaskan dengan partitur kata per kata. Ada beribu cinta yang terlalu sulit untuk diselarasi dengan rasa. Ada sepasang hati yang terlalu mulia untuk disakiti oleh keadaan. Sakit pada tubuh sudah menjadi kebiasaan. Lelah jiwa dan raga tertahan oleh rasa kerinduan. Untuk masa yang akan datang dan masih dengan aku yang terus saja menantikan kehadiranmu tuan, bagai bulan yang berhasil menampakkan wujudnya setelah diselimuti awan tebal nan hitam pekat gulita yang mampu dimiliki kembali oleh malam dengan seutuhnya. Malam memang selalu identik dengan pekat, konon katanya hitam lebih suka melekat di langit malam untuk menghadiahkan bintang yang tampak bersinar begitu terang nan dekat dari bumi.
 Layaknya sang gerhana yang memiliki dua sisi pencerminan diantara sebagai fenomena yang mengagungkan dan wujudnya yang meyeramkan. Itulah yang tampak dari diriku sendiri saat tak dapat bersama denganmu lagi tuan. Ketika aku mengatakan setitik rasa dihatiku tertaut padamu, apakah kamu akan percaya? Mungkin tidak terlalu besar rasa yang dapat kuberikan karena setiap bagian dari hembusan nafasku sudah menjadi milik kedua orang tuaku. Rintik hujan menyapu setiap tangisanku bukan memudarkan setiap buliran air mata yang mengalir dipipi. Dan matahari yang bersinar sangat terik mampu mengeringkan perih tanpa menguapi setiap duri di palung hati terdalam.
Namun nyatanya hanya kamu dan kamu, orang asing yang mampu menyusup ke bilik celah yang lebih dalam yang telah menemukan bagian terkecil dari pusat pengatur perasaan. Untuk pertama kalinya, ada seorang makhluk yang berhasil menyentuhnya dengan genggaman tangan nan erat. Maukah kau bertanggung jawab tuan? Atas perasaan yang berhasil kau tumbuhkan. Maukah kau tuan mengklaim apa yang sudah kau ambil dari bagian diriku? Sekeping hati yang mungkin suatu saat nanti akan menemukan rumahnya sendiri, dimana ia dapat merasa sangat nyaman berada di dalamnya.

Fatamorgana kehidupan yang tak sejalan dengan ilusi pemikiran yang telah aku ciptakan sendiri. Ada saatnya terkadang aku merasa terlalu peka pada dunia ini. Seakan aku tak sanggup melihat hari esok dan enggan mengakhiri mimpi semalam ku. Ketika waktu itu tiba, bahkan lalat yang terbangpun akan terasa sangat menakjubkan dimata, seolah dunia ini memiliki seribu rahasia yang terlalu ajaib untuk dimengerti sepersekian detik. Seperti keadaan saat ini, aku merasakan detik – detik dimana angin seolah berbisik merdu dan membawa dirimu pergi jauh meninggalkanku. Dedaunan seakan memanduku mamasuki sebuah dunia yang benar – benar berbeda dari mimpiku semalam. Kicauan burung kutilang seakan mengejek, mencaci maki, dan merendahkan diriku yang telah dibodohi oleh perasaan yang tumbuh subur ini, entah datangnya dari mana? akupun tidak tahu.

Aku masih terdiam bisu dengan seribu bahasa yang tak ku mengerti. Mataku berhenti mengerjap saat semuanya jelas terngiang di alam bawah sadarku. Muak! mungkin satu kata yang saat ini pantas ku ungkapkan untuk menggambarkan perasaan ini. Ya, memang aku muak dengan semua ini, aku yang rapuh dan telah mampu dikalahkan olehmu. Kau patut berbangga dan berbesar hati dengan bukti kau yang telah memenangkannya, sedang aku yang bodoh telah mampu kau kalahkan tuan. Aku lelah dan menyerah dengan apapun yang membawa nama hati dan perasaan. Bukannya aku penakut, menghindar, platonic atau semacam dari itu, cuman aku membentengi diri dari zona dimana aku merasa lemah dan tak memiliki daya kekuatan apapun saat terbawa lebih dalam dan dalam.
Seharusnya aku tahu dan sadar bahwa mengagumi tidak sama dengan mencintai. Menyukai tidak sama dengan mengasihi dan menyayangi tidak sama dengan membenci. Begitulah arti yang tergambarkan oleh pemikiran rumitku, dengan jalan yang liku dan tak pernah aku pahami makna di dalamnya. Pahit! Kata ini yang telah mampu mewakili perasaan ini. Hatiku merasa pahit seakan ingin keluar dari persembunyiannya dan ingin ku muntahkan saja tumpah ruah, agar kau mengerti tuan betapa sakitnya jiwa dan raga yang setengah mati ku tahan hingga ku merasa tak kuat lagi seakan rasanya ingin gila saja.

Serapuh itulah aku? Seronegative kah aku terhadapmu? Kadang aku merasa ada sandi – sandi rumit di setiap perkataan yang aku ucapkan bahkan seolah tidak bisa hanya ku jelaskan dengan uraian dari buku kamus semata. Aku penerjemah bagi diriku sendiri untuk pesan anverbal dari manusia – manusia disekitarku seolah keadaan yang membuatnya serumit ini, sampai – sampai aku harus berusaha untuk berpikir keras lagi dan lagi. Seperti itulah aku bekerja saat ini memenuhi pikiranku sendiri dengan konspirasi pertanyaan – pertanyaan ku yang aku pun tak tahu apa jawabannya dan entah kemana lagi ku akan mencari orang untuk kumintai jawaban dari setiap pertanyaanku.
Ada satu waktu dimana aku pernah berpikir kalau sepertinya kehidupan itu memang suka mempermainkan makhluk – makhluk di dalamnya. Salah satunya adalah momen dalam hidupku dimana waktu yang baru saja aku mencoba untuk memulainya. Seakan telah berjalan begitu cepat dalam satu hari. Seolah mampu mengajarkan padaku berbagai jenis perasaan yang berbeda beda dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Waktu pula yang menyebabkan kau pergi jauh dariku. Bukan salah kau tuan yang membuatku benci padamu setengah mati, juga bukan kesalahanku yang merasa selalu benar. Lantas siapakah yang harus ku salahkan atas keadaan ini? Dan siapakah orang yang akan kutanyai esok untuk kumintai pertanggung jawaban atas kekacauan yang mereka timbulkan ini?

Ketika lagu masa lalu kembali kumainkan dan terputar di ingatanku, begitulah otak ku mengulas lebih jauh kisah yang dalam tentang kejadian dahulu. Apakah kau mengetahui bahwa aku sedang merindukanmu tuan? Tapi ego yang tak sanggup kukalahkan masih membara dan membakar hati ini seolah - olah meminta agar aku terus membencimu. Sesaat aku tersadar, aku sudah memilih gesekan senar yang kupetik akapilanya dan begitu juga dengan kau yang sudah memilih sekumpulan kurva philips-Nya. Hanya membutuhkan waktu sedikit demi sedikit untuk memulihkan seluruh keadaan hati yang telah hancur lebur bak terkena badai topan yang sangat dahsyat.
Kau hanyalah seperti bayangan hitam dalam gelapnya pekat malam, hanya ada siluet nan temaram oleh remang - remang cahaya bulan. Tak ada kepastian yang dapat kugenggam. Layaknya pelangi yang mucul dalam ruang gelap gulita. Jingga senja yang menawan seolah terlihat kelabu dipandanganku. Hingga yang ada hanya aku yang berusaha memendam rindu. Aku selalu menerka nerka sebab aku takut salah langkah untuk kemudian hari. Di balik awan hitam yang membawa senjanya pergi, aku selalu berdoa semoga dirimu baik – baik saja disana dan tak menyesal pada waktunya.

Teruntuk kamu, sang kamuflase yang bersembunyi di dalam kebaikan, penampilan, dan pengetahuan yang luas! jangan berikan harapan yang tiada artinya bagiku. Jangan pula membalas rasaku dengan cara yang tak seharusnya. Jika kau membalas tuhan yang menciptakanmu dengan rasa syukur maka hargai dan lindungi ciptaan tuhanmu yang lain. Sebagaimana dia dengan seribu cara menciptakanmu sedemikian rupa. Walau hanya dengan setitik air mata kau membuatnya menetes, maka Dia akan memberikan beribu kesengsaraan yang kembali pada dirimu sendiri seperti derasnya ribuan rintik air hujan yang turun dari langit menjatuhi bumi ini.

12 comments for "Cerpen Remaja : Curahan Sang Penguasa Hati"

  1. Cerpennya bagus karena tujuan penulis seakan ingin berbincang dengan pembaca tapi kurangnya ada di kata katanya, saya merasa kata katanya agak sulit dicerna mungkin karena pembahasannya terlalu basa basi bla bla yang menurut saya akan membuat pembaca jadi bosan dalam artian cuma baca secara singkat dengan scroll cepat.

    ReplyDelete
  2. Cerpen nya lumayan bagus tapi ada kata kata yg kurang saya megerti

    ReplyDelete
  3. Kata katanya sangat indah , dengan alur yang bagus sehingga terasa nyata dan terhanyut dalam puitisnya kata kata yang terangkai

    ReplyDelete
  4. Cerpennya bagus karena tujuan penulis seakan ingin berbincang dengan pembaca tapi kurangnya ada di kata katanya, saya merasa kata katanya agak sulit dicerna mungkin karena pembahasannya terlalu basa basi bla bla yang menurut saya akan membuat pembaca jadi bosan dalam artian cuma baca secara singkat dengan scroll cepat.

    ReplyDelete
  5. Kata kata nya sangat indah sehingga bisa membuat pembaca terhanyut dalam puitisnya rangkaian kata

    ReplyDelete
  6. Isi Cerpen nya bagus sangat cocok dengan kehidupan remaja remaja sekarang

    ReplyDelete
  7. Mantaps pak sampai sampai saya baper pak membaca nya

    ReplyDelete
  8. Cerpennya sangat bagus sampai-sampai menyentuh hati:)

    ReplyDelete
  9. Cerpen itu sangan bagus dan sangat menarik di baca

    ReplyDelete
  10. Cerpen itu sangat bagus dan sangat menarik dalam diri kita

    ReplyDelete

Post a Comment

Berlangganan via Email