Cerpen Bertema Adiwiyata : Sampah Sumber Hidupku

Cerpen Bertema Adiwiyata - Suara ayam berkokok di pagi hari membangunkanku dari tidur. Udara dingin di pagi hari di desaku Kayukebek, langsung menyambutkudengan menyentuh kulitku. Seperti biasa, setelah aku bangun, aku melihat ayahku di teras rumah yang sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja di kebun apel.

Ayahku adalah seorang petani apel, dan memang ayahku biasanya pergi bekerja ketika matahari belum menampakkan wujudnya dari Timur.Tidak lama berselang ibu menyapaku yang baru bangun tidur dari arah dapur dengan sapaan khasnya,

“Nduk, dibuatkan teh ta?”
Mendengar pertanyaan ibuku, aku langsung menghampirinya dan mengangguk mengisyaratkan jawaban iya atas pertanyaannya. Aku pikir tadi ibuku belum bangun tidur, ternyata dia sudah bangun. Oh iya, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, jadi ibuku setiap harinya selalu ada dirumah untuk memasak masakan keluarga, bersih-bersih rumah, menyetrika pakaian, dll.

Cerpen Tema Adiwiyata Terbaru

Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus negeri di kota Malang, dan sekarang adalah hari libur kuliah setelah Ujian Akhir Semester. Hari liburku lama sekaliyaitu kurang lebih sekitar 3 bulan, sehingga aku bingung mau melakukan aktivitas apa untuk mengisi waktu liburanku ini.

Hal yang paling sering aku lakukan untuk mengisi liburanku adalah dengan menonton film di laptopku dan juga mendengarkan musik di handphoneku. Aktivitas-aktivitas seperti itu bisa aku lakukan satu sampai dua minggu berturut-turut lamanya, karena memang aku tidak memiliki kesibukan lain selain bermalasan-malasan dirumah.

Semakin sering aku bermalas-malasan, aku jadi khawatir sendiri dengan kesehatanku. Jarang bergerak membuatku khawatir terkena penyakit, aku rasa aku harus mulai berolahraga.
Suatu hari aku mulai membuka handphoneku dan mengirim pesan ke teman-temanku, mengajak mereka bermain badminton, dan teman-temanku mengiyakan ajakanku.

Akhirnya, kamipun mulai bermain badminton di gedung balai desa Tlogosari. Disela-sela waktu ketika aku sedang beristirahat setelah bermain badminton, ada salah satu teman menghampiriku dan berceritamengenai masalah sampah dirumahnya, nama temanku itu adalah Dani. Dia berkata;

“Eh Nad, aku malas sekali kalau ada di rumah”
“Loh kenapa Dan?”, jawabku

“Tetanggaku sering sekali membuang sampah sembarangan disamping dirumahnya, bau dari sampahnya bisa sampai kerumahku, aku enggak nyaman sekali sama baunya”, Jawab Dani
“Waduh gawat itu Dan, kamu mesti bilangin sama tetanggamu itu, kalau enggak gitu tetanggamu bakal terus-terusan buang sampah sembarangan di samping rumahmu”
“Udah Nad, tapi tetanggaku tetap gak mau dengar”, jawab Dani lagi

Setelah mendengar cerita Dani, aku memutuskan untuk mampir kerumahnya nanti di Wonosari setelah selesai bermain badminton, melihat langsung kejadian yang telah dia ceritakan kepadaku.

Sesampainya di rumah Dani, aku langsung melihat disamping rumahnya yang memang dipenuhi banyak sampah. Terlihat jelas sekali sampah banyak berserakan disamping rumah Dani, ada sampah organik dan ada juga sampah yang nonorganik.

“Kamu bisa lihat sendiri kan”, tegas Dani
“Iya Dan, kok kamu enggak laporin ajah ke ketua RT kamu gitu, biar ditindak tegas?”
”Gimana ya, aku sebenarnya enggak mau cari ribut sama tetanggaku ini, orangnya suka marah-marah gak jelas soalnya”, imbuh Dani

”Lah daripada rumahmu jadi gak nyaman Dan, kan mending dilaporin?”
“Iya juga sih”, jawab Dani dengan nada lirihnya
Setelah berbincang cukup lama dengan Dani, akupun langsung pamit ke Dani untuk pulang kerumah. Lalu sesampainya dirumah aku menceritakan permasalahannya Dani ke ibuku.
“Bu, disamping rumahnya Dani banyak sampahnya”

“Loh kok bisa nduk?”, jawab ibu
“Iya bu, jadi ada tetangganya Dani yang suka buang sampah sembarangan disamping rumahnya Dani, jadi bau dari sampahnya itu bisa sampai masuk rumahnya, dia jadi gak nyaman di rumahnya”
“Emangnduk, sekarang kebutuhan yang makin tinggi jadi menghasilkan jumlah sampah yang semakin banyak, enggak hanya dirumah Dani, itu lihat juga tempat sampah di dapur, sampahnya juga banyak”, jelas ibu

“Loh kok enggak dibuang bu?”
“Ibu mau buang, tapi tempat pembuangan sampahnya jauh, mau nyuruh ayahmu juga ayahmu belum sempat, karena kadang masih kerja di kebun”, jawab ibu
“Ya kan bisa nyuruh aku bu, aku kan juga bisa kalau cuma buang sampah, kok enggak nyuruh aku ajah bu, ada motor juga kok?”

“Kasihan kamu kalau liburan, ibu suruh terus-terusan nduk. Kalau naik motor kesana juga bahaya jalannya, licin”, jawab ibu lagi
“Ya enggak apa-apa bu”

Apa yang yang dikatakan ibu ini memang benar, bukan hanya disamping rumah Dani, tetapi di rumahkupun banyak sampahnya. Tidak dapat dipungkiri kalau semakin lama kebutuhan yang semakin banyak juga menciptakan jumlah sampah yang semakin beragam pula.
.
Sampah-sampah ini muncul dari sisa-sisa benda yang sudah tidak terpakai dan akhirnya terkumpul menjadi satu, berserakan, dan menimbulkan pencemaran dimana-mana.

Belum selesai dengan permasalahan sampah, tiba-tiba ayah datang dari kebun dengan membawa kabar yang kurang menyenangkan. Ayahku mengatakan kalau di kebun kitaterancam gagal panen karena cuacanya yang kadang tidak menentu,sehingga mengakibatkan kondisi tanamannya menjadi kurangsubur.

Ayah juga mengatakan, kalau misalnya gagal panen, aku terancam belum bisa kuliah semester depan, karena biaya kuliahnya belum mencukupi, dan juga karena ada kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dipenuhi dulu juga.

“Ayah minta maaf ya nduk, kalau kamu semester depan belum bisa kuliah”, terang ayah
“Iya yah enggak apa-apa, mungkin belum rezekinya”
“Tapi ayah akan usahakan biar kamu tetap bisa kuliah”, terang ayah lagi
“Yah, kalau misalnya memang belum bisa buat kuliah enggak apa-apa, nanti biaraku cari kerja dulu ajah yah”

Cerpen Lainnya :
Cerpen Cinta Romantis
Cerpen Singkat Persahabatan 

Mendengar apa yang dikatakan ayah memang membuatku sedikit sedih, disisi lain aku juga masih ingin kuliah, namun ayah juga sudah berusaha yang terbaik. Kalau memang belum rezekinya aku rasa aku akan ikhlas.

Keesokan harinya sambil meminum teh hangat di rumah, aku menemukan sebuah artikel menarik di handphoneku ketika aku sedang browsingdi internet.

Ada sebuah artikel yang membahas tentang pupuk tanaman yang dibuat dari sampah-sampah yang telah diolah. Aku langsung membaca artikel tersebut dan menemukan sebuah ide, bagaimana kalau sampah di rumah yang banyak ini aku manfaatkan sebagai pupuk kompos untuk tanaman ayah di kebun.

Tanpa menunggu waktu yang lama, aku langsung browsing lagi untuk mencari tahu cara membuat pupuk dari sampahdi internet, dan juga mencari video tutorialnyadi Youtube. Setelah itu, aku langsung berdiskusi dengan ayah mengenai pupuk kompos ini.

Aku memberikan saran bagaimana kalau dipraktikkan di kebunnya ayah. Ayah awalnya kurang yakin, tapi aku menjawab kalau tidak dicoba dulu hasilnya juga tidak akan pernah tau.
Pupuk kompos adalah satu jenis pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik, seperti pada tanaman maupun hewan.

 Proses pengomposan bisa berlangsung secara aerobik yaitu melibatkan oksigen dan anaerobik atau tanpa menggunakan oksigen di dalam prosesnya.Proses dekomposisi atau penguraian inilah yang dapat menjadikannya disebut sebagai pupuk kompos.

Sedangkan arti dari proses pengomposan ialah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.

Membuat pupuk kompos dari sampah sendiri termasukRecycle, artinya kita memanfaatkan sampah menjadi barang yang bisa gunakan lagi dengan cara didaur ulang. Seperti contohnya yang sedang aku dan ayahku lakukan, membuat pupuk kompos dari sampah organik yang sudah tidak terpakai.
Berbekal tutorial dari internet, aku dan ayahku mulai membuat pupuk kompos dari sampah yang sudah tidak terpakai di rumah.

Kami berdua mulai menguraikan sampah dengan menggunakan peralatan dirumah secara sederhana, dimana sampah yang organiklah yang dipakai untuk membuat pupuk kompos. Setelah sudah menjadi pupuk kompos, kami mulai mempraktikkannya dengan memberikan pupuk kompos ke tanaman di kebun kami.

Kegiatan ini kami lakukan kurang lebih satu minggu lamanya, hingga pada suatu hari ayah memberitahukan kepadaku;
“Nduk, alhamdulillah pupuknya berhasil”, terang ayah dengan nada gembiranya
“Wah alhamdulillah yah, gimana tanamannya yah?”
“Alhamdulillah tanamannya mulai subur lagi, sama mengeluarkan buah lebih banyak”, jawab ayah

Mendengar apa yang diucapkan ayah membuatku senang, karena dengan ini hasil dari perkebunan apel ayahku memberikan rezeki yang lebih banyak dari sebelumnya, dan kemungkinan untuk gagal panenpun dapat dikurangi atau bahkan diatasi.
Bukan hanya aku dan ayah yang senang, ibu yang mendengarkan percakapan kami juga ikut senang sambil mengucapkan kalimat syukur.

Sampahpun kini menjadi salah satu sumber kehidupanku. Sampah organik yang dikelola menjadi pupuk kompos memberikan manfaat bagi perkebunan ayahku, dengan menghasilkan buah apel yang lebih banyak.

Adapun untuk sampah non organiknya aku buang ke tempat pembuangan sampah di desaku. Jaraknya yang jauh membuatku terbiasa berolahraga setiap dua hari sekali dengan berjalan kaki, sehingga bisa mengurangi kebiasaanku bermalas-malasan dirumah.

Pada dasarnya sampah adalah barang sisa yang sudah tidak terpakai, kita harus bijak dalam mengelolanya. Apabila sampah ini kita biarkan begitu saja, maka akan memberikan dampak yang buruk, terutama bagi lingkungan melalui pencemarannya. Sedangkan jika kita manfaatkan dengan baik, maka bisa jadi sampah ini memberikan dampak yang baik bagi diri kita maupun juga orang lain.

****
Itulah cerpen bertema adiwiyata. Semoga dengan membaca cerpen ini memberikan banyak manfaat kepada sobat semua. Terima kasih.

Cerpen Karya Nabila Ananda

Post a Comment for "Cerpen Bertema Adiwiyata : Sampah Sumber Hidupku"