Naskah Drama Bertema Konflik Persahabatan

Siapa Kamu?
Cahaya matahari menerpa kulit seorang wanita cantik yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Dia terlihat begitu menikmati tidur panjangnya. Tapi hari ini, mata cantik itu sudah lelah untuk terpejam. Dengan perlahan ia membuka matanya. Melihat dunia yang seolah-olah tak membutuhkannya.

Suster : Astaga, akhirnya kamu bangun. (kemudian berlari menemui dokter)
Dokter  :Selamat pagi, Nona. (sambil memeriksa keadaan pasien)
Amanta : Maaf, apakah Anda tahu siapa pria disamping kiriku ini? (sambil menunjuk disamping nakasnya)
Suster : Hahaha... nona rupanya pandai untuk berlawak. Tidak ada siapa-siapa disamping Nona. Hanya ada saya dan Dokter Alfa.
Amanta : Ah, baiklah. Mungkin hanya halusinasiku saja.
Dokter : Apakah Anda masih mengingat nama Anda?
Amanta : A-manta? Ya-landa? Ah, iya. Namaku Amanta Yalanda.
Dokter : Selain itu, apa lagi yang Anda ingat?
Amanta : (berpikir)  Tidak ada.
Dokter : Baiklah. Lanjutkan istirahat Anda. Saya dan Suster Anita keluar dulu. (Dokter Alfa dan Suster Anita keluar)
Amanta : (melihat sisi kirinya) Siapa lo? Lo tuli ya? Atau lo bisu?
Aksa : Lo ngomong sama gue?
Amanta : Menurut lo?
Aksa : Hahaha... Jangan dingin gitu dong. Gue Aksa Gumilang, lo bisa manggil gue Aksa. Lo gak penasaran kenapa semua orang gak bisa lihat gue kecuali lo?
Amanta diam.
Aksa : Woy. Sekarang lo yang tuli dan bisu.
Amanta: (hanya melirik dan menaikkan alisnya)
Aksa : Oke, santai dong gausah ngeliatin gue kayak gitu. Nanti lo kesemsem sama ketampanan gue. Gue itu malaikat penjaga lo.
Amanta : Terserah lo. Gue capek.
Amanta menutup mata dan mulai menjelajahi mimpinya kembali.
Empat bulan menjalani masa pemulihan di rumah sakit, sekarang ia berada di rumah Devan Faresta. Dimana seseorang yang mengaku sebagai kakaknya.
Devan : Dek, cepet turun. Mama udah masak buat sarapan.
Amanta : Sebentar.
Aksa : Lo udah ditunggu tuh sama abang dan nyokap lo. Buruan turun.
Amanta : Bawel banget sih lo.
Devan : Dek? Ngomong sama siapa? (sambil membuka pintu kamar Amanta)
Amanta : Biasa, gue kan spesial. (melewati Devan dan turun ke bawah)
Devan  : (melihat Aksa) Jangan deketin Amanta lagi. Gue tahu lo mau ngembaliin ingatan dia.
Aksa : Suka-suka gue dong.
Devan : Lo tahu kan gue sebenernya siapa? So, dont mess with me. Shes mine.
Aksa : No, shes not yours. And will never yours.
Devan mulai jengah dengan Aksa. Hingga akhirnya dia memilih keluar dari kamar Amanta menuju ruang makan.
Devan : "Dek, udah makan?"
Amanta : " Udah." (berdiri merapikan baju)
Devan : "Yaudah yuk berangkat!" ( berjalan mengambil helm fullfacenya)
Amanta : "Lo gamakan?"
Devan : "Udah gampang, nanti kakak tinggal beli di kantin sekolah." (Dengan cengiran kecilnya)
Amanta : "Terserah lo deh." (memalingkan wajahnya dengan ketus)
Devan : "Bisa gak dek panggilnya pake aku kamu aja jangan pake lo gue, gasopan tau lagian kan kita saudara."
Amanta : "Ribet amat sih hidup lo.!" (mendengus kesal sambil menaiki motor devan)

Baca Juga
Cerpen Doa Orang Teraniaya
Hakikat Resensi dalam Surat Kabar 
Mereka berangkat sekolah dengan suasana hening diatas motor. Hanya hembusan angin dan suara riuh kepadatan kendaraan bermotor yang terdengar. Sesampainya di sekolah, Devan mengantar Amantar ke ruang guru untuk menemui wali kelas barunya.
---Di kelas Amanta---
Cklek (semua suara seketika hening dan mulai mengalihkan pandangan menuju pintu yang perlahan terbuka)
Pak Guru : "Selamat pagi anak-anak,"
Murid : "Pagi, Pak."
Pak Guru : "Hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu (sambil memandang Amanta)."
Amanta : (menatap seluruh isi ruangan) "Gue Amanta Yalanda, terserah mau manggil gue apa."
(seisi kelas menatap Amanta bingung)
Amanta : (sadar akan situasi, kemudian tersenyum) "Panggil sayang juga boleh."
(kelas yang awalnya hening, tiba-tiba menjadi riuh karena ucapan Amanta)
Pak Guru : "Silahkan duduk di bangku pojok sana sebelah laki-laki itu."
(Amanta melangkah menuju tempat duduknya)
Ray : "Hai, ay. Perkenalkan pangeran tampan di sebelahmu ini bernama Reynaldo Bagas Angkasa yang bisa dipanggil sayang juga sama kamu." (sambil nyengir kuda)
Amanta : "Oke."
Ray : "Tega banget cogan didinginin." (sambil memasang wajah memelas)
Amanta hanya melihat.
Ray : "Hehe, panggil Ray aja ya ay biar akrab. Btw on the way busway gue manggil lo Tata aja ya, biar spesial."
Amanta : "Pake telor berapa tuh spesial?" (masih dengan muka datarnya)
Ray: " (ketawa garing) Yaudah dengerin Bapak Zain dulu deh, nanti kita dimarahin kalo berisik terus."
---Di kantin (Raynaldo dan Amanta duduk berdua)---
Tiba-tiba Devan datang dan melihat Raynaldo dan Amanta duduk berdua.
Devan : "Dek, udah pesen makan?"
Amanta : "Udah, pesen siomay."
Ray : "Loh, Van. Lo kenal sama Tata?"
Devan: "Tata siapa? Amanta maksud lo? (menyerjitkan dahi) "
(Ray mengangguk)
Devan : "Dia adek gue."
Ray : "Loh, bukannya lo gak pu..." (Devan langsung membekap mulut Ray)
Amanta : (menatap bingung) "Kalian kenapa sih?"
Devan (menatap Ray penuh maksud)
Ray : "Hehehe gapapa."
( keadaan canggung, mereka melanjutkan kegiatan masing - masing )
Aksa : " Ta, lo merasa aneh gak sama mereka berdua? "
Amanta : "iya sih gue risih banget tau ga..!" (sambil berbisik)
Aksa : (seketika aksa berada lima centi meter di depan amanta) "lo ga penasaran sama mereka?"
Amanta : (terkejut hampir terjatuh) "kagetttt gblkkk!" (meninggikan suara)
Aksa : (nyengir kuda)
Ray : (bingung dan menatap amanta lekat) "Kenapa lo? kerasukan setan. Ngatain gue gblk lagi.!"
Amanta : (sekilas melirik aksa sambil berdecak kesal) "Gapapa kok cuman kaget aja."
Ray : "kaget kenapa lo?"
Amanta : (beralih  menatap layar ponselnya untuk mengalihkan topik pembicaraan) "eh tau gak sih lo! ada kakel dm gue lewat ig nih."
Ray : "cewek apa cowok ta?"
Amanta : "cowok nih. tinggi putih kapten basket lagi idaman gue banget tau ga lo..?" (kegirangan)
Ray : "gausah di bales ta..! gue gasuka lo deket sama cowok lain selain gue." (memperingati dengan suara keras)
Amanta : "tapi kannnn."
Devan : (menjitak kepala amanta) "bener tu kata ray, gausah deh lo sok sok deket sama cowok lain disekolah ini. Lagian lo kan murid baru disini.!" (menasehati)
Amanta : "Yeeee lo pikir gue cewek apaan deket sama banyak cowok. Nih gue baru liat dm dan kakel kapten basket yang dm gue tau ga lo. cowok idaman gue banget lagi." (menaikkan nada suaranya)
Devan : "denger ya adik ku yang baik dan lucu (mengacak puncak kepala amanta) gue sebagai kakak ganteng lo gamau kalo harus liat lo deket dan disakitin sama cowok lain ternasuk ray sekalipun."
Ray : "lo mah van suka gitu sama temen sendiri (menoyor lengan devan), btw tapi kali ini gue setuju sama omongan lo van." (mengacungkan jempolnya kepada devan)
Amanta : "Apaan sih kalian berdua kaya anak kecil aja tau ga ,lebay banget, gue udah gede tau ga.! Tapi kalo dia deketin gue sih gue mau mau aja, hahaha." (tertawa terbahak)
Devan & Ray : (bersuara bersamaan) "Pokoknya Engga.!!!!!!!"
Amanta : "Ishh, sok sehati deh kalian. Pakek barengan segala ngomongnya. Udah ah gue mau balik ke kelas dulu lima menit lagi udah bel. Bye . (melangkah pergi meninggalkan Devan dan Ray)
Setelah kepergian Amanta ke kelas, Ray bertanya sesuatu kepada Devan di kantin.
Ray : "Van menurut lo gimana kalau cowok basket tuh beneran naksir si Tata?"
Devan : "Selama ada gue, siapa pun cowok yamg deketin Amanta harus berhadapan sama gue, terutama loh.!" (dengan nada jutek)
Ray : "Lo mah gitu sama teman sendiri Van, jahat banget si abangnya Tata, jahat...jahat...jahaaatt" ( menggoda Devan sambil memukul-mukul manja ke lengan Devan) "
Devan : "Idiih loh apaan sih, nggak usah lebay deh. Gue balik duluan " (meninggalkan Ray sendirian)
Ray : "Van tungguin gue wooy!" (sambil berteriak dan mengejar Devan)
---Di kelas Amanta---
Aksa : "Ta lo beneran naksir sama cowok basket itu?"
Amanta : "Gue nggak tau. Emang urusannya sama lo apa?"
Aksa : "Gue emang bukan siapa-siapa lo Ta. Tapi,lo harus tau, dia tuh gak baik buat lo, dia cuma manfaatin lo. "
Amanta : "Lo gausah sok tau deh, Sa. Ini hidup gue. Gue mau naksir siapapun bukan urusan lo!" (dengan nada malas)
Aksa : "Gue nggak akan biarin lo deket ataupun naksir sama cowok kayak dia. Meskipun lo nggak percaya sama gue, tapi gue akan tetep ngejaga lo dari siapapun yang mau berbuat jahat sama lo, termasuk abang lo sendri, Ta." (di dalam hati aksa)
Teman sekelas Amanta melihat kelakuan aneh Amanta yang berbicara sendiri. Aksa menghilang begitu saja setelah Amanta berkata seperti itu.
Bel mulai berdentang, tanda pelajaran sekolah telah usai. Semua murid telah bersiap-siap untuk pulang. Amanta mulai melangkah keluar kelas, saat Amanta keluar dan tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depannya.
Dery : "Hai, kamu yang namanya Amanta bukan? "(tersenyum manis)
Amanta : (terkejut) "Iya, lo siapa ya? " (menatap Dery datar)
Dery : "Aku bisa bicara sama kamu nggak? Sebentar aja kok. "
Amanta : "Gausah lama-lama."
Dery : "Kamu apa kabar hari ini?"
Amanta : "Hmm, gue baik."
Dery : "Aku Dery. Yang tadi malam dm kamu."
Amanta : "Oh, lo mau ngomong apa? Gue gak bisa lama-lama."
Dery : "Nanti malam kamu ada acar nggak? Aku mau ngajak kamu makan malam."
Amanta : "Dalam rangka apa lo ngajak gue makan malam?"
Dery : "Anggep aja sebagai awal dari pertemanan kita. Aku harap kamu bisa ya? Please!! "
Amanta : "Hmmmm, oke lihat nanti malem aja."
Dery : "Makasih Ta. Nanti aku jemput. Kirim aja alamat kamu."
Amanta : "Hm. " (sambil cuek bebek)
Dery : "Aku balik dulu ya, kamu mau aku anter pulang? "
Amanta : "Gak usah, gue bareng abang gue."
Dery : "Oke. Duluan ya Ta. Aku tunggu nanti malam."
Amanta : (amanta hanya mengangguk sambil tersenyum)
----Pulang sekolah----
Ray : "Yuk pulang bareng gue."
Amanta (terdiam dan melirik ke arah Aksa)
Aksa (tersenyum dan mengangguk)
Amanta : "Oke, kuy."
Belum sempat keluar kelas, Devan datang.
Devan : "Ayo dek pulang."
Ray : "Nggak, dia pulang bareng gue."
Devan : "Lah gue abanganya. Jadi dia kudu pulang bareng gue."
Ray : "Abang dari mana? Orang lo bukan ab..." (Devan membekap mulut Ray)
Devan : (melihat sekeliling dan mencari keberadaan Amanta) "Loh, si Amanta kemana Ray?"
Ray : "Ah, gara-gara lo nih Van,"
Devan : "Kok gue? Kan lo yang mulai bego. Udah ah, gue mau nyari Amanta." (meninggalkan Ray)
Sementara itu, Amanta dan Aksa berjalan bersama. (Jalan setapak arah rumah Amanta)
Amanta : "Oi,"
Aksa : "Ai oi ai oi, gue punya nama kali, Ta."
Amanta : "Idih bacot lo."
Aksa : "Yaudah, apa?"
Amanta : "Kenapa gue ngerasa kalo Devan bukan abang gue, ya?"
Aksa (terdiam) : "Kenapa lo mikir gitu?"
Amanta : "Beda aja. Tiap gue sama Devan gue gak ngerasain sosok abang dari dia. Gue ngerasa jauh aja sama dia."
Aksa (berbisik pada dirinya sendiri) : "Emang nyatanya gitu, Ta."
Amanta : "Hah, apaan?"
Aksa : "Apanya yang apaan."
Amanta : "Lo ngomong apa barusan, bocah."
Aksa : "Kuping lo rusak ya? Orang gada yang ngomong."
Amanta : "Yaudah deh, capek ngurusin lo. Ayo pulang."
---Malam hari di rumah Amanta---
Amanta sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Dery. Sebelumnya Amanta sudah mengirimi Dery pesan mengenai alamat rumahnya. Amanta berniat meminta izin kepada orangtuanya dan kebetulan semua sedang berkumpul di ruang keluarga.
Amanta : "Ma, Pa. Amanta mau keluar dulu ya."
Mama Devan : "Kamu mau keluar sama siapa, nak?"
Amanta : "Sama Dery."
Papa Devan : "Siapa dia?"
Amanta : "Kakak kelasku."
Mama Devan : "Oh, jadi dia yang berisik daritadi di depan. Yaudah, hati-hati, Ta. Jangan pulang kemaleman."
Amanta mengangguk dan keluar dari rumah.
Aksa (berada di depan Amanta) : "Jangan pergi, Ta."
Amanta (terkejut) : "Gblk!! Kaget gue." (Aksa tertawa) "Gue tetep berangkat. Bye bye."
Aksa (menahan lengan Amanta) : "Sekali ini aja percaya sama gue."
Amanta : (menatap kaget kepada Aksa, dan bermonolog dalam hati) "kenapa aksa bisa nyentuh gue? Dia kan hantu"
Sadar akan ekspresi amanta aksa spontan melepaskan genggaman tangannya. Dia juga terkejut kenapa dirinya bisa menyentuh amanta. Mendapat kesempatan untuk melarikan diri, amanta langsung pergi tanpa sepatah kata lagi.
Devan yang melihat pertengkaran kecil antara Aksa dan Amanta, berniat untuk mengikuti Amanta.
Devan : "Biar gue yang kasih pengertian ke dia."
Aksa : "Gue harap lo bisa. Dan jangan pernah apa-apain Amanta. Gue masih disini untuk bantu dia."
Devan meninggalkan Aksa.
---Di depan rumah---
Dery : "Hai, Ta. Udah siap?"
Amanta (tersenyum simpul)
Dery : "Yaudah yuk." (sambil membukakan pintu)
---Di perjalanan---
Dery : "Kamu cantik banget malam ini, Ta."
Amanta : "oh."
Dery : "Kok cuma gitu sih responnya?”
Amanta : " terus?.

Dery : Ta, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi, aku mau ngungkapin perasaanku sama kamu. Aku suka sama kamu, ta. Kamu mau kan jadi pacar aku?

Amanta : Gue gak mau.

Dery (mengerem mendadak) : Kenapa kamu gak mau? Bukannya kamu suka banget sama aku?

Amanta : Gue gak bakal suka sama cowok kaya lo. Gue tahu gimana lo, Der! (menatap datar wajah Dery)

Dery : Aku baik, Ta? Aku akan jaga kamu.

Amanta : Cuman cewek bodoh yang mau sama cowok kaya lo. Dasar buaya. (sambil menatap Dery tajam)

Dery : Lo! Akan nyesel udah nolak gue. (menatap Amanta dengan penuh amarah)

Amanta mengendikkan bahu, merasa ancaman itu angin lalu.
Dery : Sekarang lo keluar dari mobil gue!

Amanta : Oh, oke."

Dery pun melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi. Disaat Amanta ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Devan datang dengan sejuta kekhawatiran.

Devan : Kamu gak apa-apa? (sambil memeluk Amanta)

Amanta : Gakpapa.

Devan : Yaudah, sekarang kita pulang ya?

Amanta : Gue pulang sendiri.

Devan : Tapi, Ta? Ini udah malem.

Amanta mengendikkan bahu dan berjalan meninggalkan Devan.

Aksa : Biar gue temenin dia.

Devan : Gue yang akan nemenin dia. Dan lo! (tunjuk Devan) gak usah ngebantu dia lagi. Dia milik gue.

Aksa (tertawa sarkas) : Kita lihat aja nanti.

Aksa melengang pergi menyusul Amanta.

Aksa : “Oi, bocah.

(Amanta menatap Aksa jengah)

Amanta : Mau apalagi sih lo? Capek gue liat lo mulu.

(Aksa menarik tangan Amanta dan mengajak Amanta ke suatu tempat)

Amanta : "Mau kemana?"

Aksa : "Udah sih, ngikut aja."

Amanta : "Ngapain kita kesini?" (tempat kecelakaan mereka)
Aksa : "Mau mengenang masa lalu aja sama lo."

Amanta : "Masa lalu? Maksud lo ap.." (ucapannya terpotong sebab kepalanya pusing)

Aksa : "Ta, lo gapapa?"

Amanta : "Gue mau pulang." (sambil melangkah)

Disaat Amanta berjalan untuk pulang, ada sebuah mobil yang hampir menubruknya. Dengan reflek Aksa menahan bahu Amanta untuk berhenti. Aksa sempat terkejut dan diam sejenak di tempat, sebelum melanjutkan langkahnya kembali.

Aksa menyadari akan perubahan dari Amanta, ia tetap setia berjalan dibelakang Amanta. Devan yang terlebih dahulu sampai di rumah, khawatir kepada Amanta disaat melihat Amanta masuk dengan memegang kepala.

Devan : "Dek, kamu kenapa?"

Amanta : "Gue mau ke kamar."

Devan : "Biar aku antar."

Amanta : "Gausah."
Saat hendak melangkah ke tangga, tiba-tiba tubuhnya limbung ke belakang. Dengan sigap Devan menahan tubuh Amanta dan membenarkan posisinya.

Devan : "Dek. Please jangan keras kepala!"

Amanta : "Lepasin gue, Van!"

Devan : "Untuk kali ini aja," (Amanta menepis tangan Devan dan kembali melanjutkan langkahnya untuk ke kamar) (Devan hanya terpaku melihat perlakuan Amanta)

BRUAKKKKKKK. Amanta membanting pintu kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai dan bersandar pada sisi ranjangnya. Amanta merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya. Bersamaan dengan itu, potongan potongan ingatan Amanta yang hilang tergambar pada otaknya, dan menciptakan sebuah film dokumenter yang dapat ia saksikan saat itu.

Aksa : “Gapapa ta nangis aja, gue masih disini sama lo” (sambil memeluk amanta)

Amanta : Sorry sa. Maafin gue. Gara gara gue lo jadi gini sekarang. Gue bener bener minta maaf. (sambal terisak di pelukan Aksa)

Aksa : “Ah, jadi lo udah inget semuanya ya. Gapapa ta itu bukan semuanya kesalahan lo. Gue juga salah waktu itu.”

Amanta : Gue salah sa!! Gue yang ngebut waktu itu. Gue  yang nyebabin kecelakaan itu.

Aksa (terkekeh) : “No Ta, gak sepenuhnya salah lo. Gue juga salah. Pas kejadian itu gue lagi mabuk. So, bukan semuanya salah lo.” (sambil melepas pelukannya)

            Aksa mengusap air mata yang ada di wajah Amanta. Saat itu juga tangan Aksa mulai menjadi transparan.

Amanta : Sa, lo gapapa kan? JAWAB GUE SA!!! JANGAN SENYUM KAYA ORANG BEGO GITU!!! AKSA!!!

Aksa : “Ah, ternyata udah saatnya.”

Amanta : “Sa lo ngomong apa sih. Lo udah janji akan selalu nemenin gue kan. So, jangan tinggalin gue. Gue sayang sama lo sa, please” (nada bicara mulai melemah)

Aksa : “Gue juga sayang sama lo Ta, sayang banget malahan. Tapi ya gimana, alasan gue ada di sini udah gaada. Lo udah inget semuanya, dan itu berarti tugas gue di sini udah selesai.”

(Seluruh tubuh aksa mulai menjadi trasparan)

Amanta : “Sa…. Gue sayang sama lo…. Please jangan tinggalin gue sendiri… gue gatau bakal gimana kalo gaada lo” (memeluk tubuh Aksa yang akan menghilang)

Aksa : “Gue juga sayang sama lo Ta, rasa sayang gue ke lo itu lebih besar dari apa yang lo pikir. Dan satu yang perlu lo inget. Gue gak akan ninggalin lo, gue akan selalu ngawasin lo dari atas sana.”

Amanta : “Sa jangan….”
Aksa : “Gak cuman sayang ta, gue cinta sama lo. Jaga diri baik baik ya, jangan sakiti diri lo lagi.”
            Setelah Aksa mengatakan hal itu, tubuhnya hilang sepenuhnya. Amanta yang awalnya memeluk Aksa terjatuh karena apa yang dipeluknya telah lenyap. Tangisan Amanta semakin menjadi jadi.
Devan yang mendengar tangisan Amanta yang begitu keras mendobrak paksa kamar Amanta. Setelah ia berhasil masuk ke kamar itu, ia langsung memeluk erat tubuh Amanta. Amanta membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Devan. Amanta menyurahkan setiap kesedihannya di pelukan Devan.
            2 bulan berlalu setelah kejadian itu. Amanta telah mengikhlaskan kepergian Aksa. Ia juga  sudah tau dimana Aksa dimakamkan. Dan juga ia sering mengunjungi makam Aksa (dengan ditemani Devan).

            Amanta memang sudah ingat semuanya, ia bahkan sudah tau bagaimana kondisi keluarganya yang sebenarnya. Sebenarnya Amanta sangat kecewa saat mengetahui bahwa orangtuanya sama sekali tidak memikirkan dirinya, orangtuanya bahkan sama sekali tidak mau mencari dimana dan bagaimana keadaan anaknya setelah kabur dari rumah waktu itu.

            Tentang Devan dan keluarganya, mereka masih belum tau bahwa Amanta sudah mendapatkan ingatannya kembali. Dan Amanta, ia memang sengaja tidak memberitahu bahwa ia sudah mengingat semuanya.

            Saat ini Amanta sedang berjalan jalan di pantai yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung berdua dengan Devan.

Amanta : Pantainya cantik ya Van. Tapi sayang, pengunjungnya cuman dikit.

Devan : Gaklah, masih cantikan kamu kemana mana. Btw dek, lo gasopan amat sama abang sendiri manggilnya gada embel embel bang (ucap devan membuat nada kesal disertai dengan bibir yang dipoutkan).

(Amanta hanya terkekeh)

Devan : Dek kok ketawa sih?

Amanta : Gue udah inget semuanya. (sambil tetap tersenyum)

Devan : Jadi lo…” (menatap wajah Amanta tidak percaya)

(Amanta tetap tersenyum sebagai jawaban)

Devan : Ta gue be- (kata devan dipotong oleh Amanta)

Amanta : Gaperlu minta maaf Van. Gue yang seharusnya berterimakasih sama lo dan keluarga
lo yang udah baik sama gue.

Devan (memeluk erat Amanta) : Ta, meskipun lo bilang gitu gue tetep minta maaf sama lo. Maaf karena udah boongin lo. Gue sayang dan cinta sama lo, cuman itu alasan gue ngelakuin itu semua.

Amanta : Gue juga cinta sama lo Van. (membalas pelukan Devan)

Devan (melepaskan pelukannya dan membelalakkan matanya) : sejak kapan lo…”

Amanta : Sejak gue inget semuanya (tersenyum manis)
Devan : Amanta Yalanda, hari ini, detik ini juga, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?

Amanta : Iya aku mau.

Devan : Makasih Ta, makasih banyak. (Devan memeluk Amanta, dan pelukan itu dibala oleh Amanta)

            Setelah dirasa cukup Devan melepaskan pelukan itu. Dua insan yang sedang bahagia ini saling menatap kemudian tertawa sambal berjalan bergandengan tanngan menyusuri bibir pantai dengan matahari yang hampir tenggelam.



--TAMAT--



NAMA KELOMPOK :
1.NOVI EKA PUTRI           
2.NURINDAH PUJI LESTARI
3.SITI NUR'AINI              
4.TITIN WIJAYANTI          
                                    5.YASMIN DYAH AYU.I  

Post a Comment for "Naskah Drama Bertema Konflik Persahabatan"